RISET mungkin
lumrah dan lebih sering dilakukan di dunia perguruan tinggi. Namun, riset pada
pendidikan dasar dan menengah yang dilakukan para guru bisa jadi masih berupa
ilusi. Jangankan melakukan riset, faktanya guru lebih banyak disibukkan dengan
urusan administrasi pengajaran berupa penyiapan dokumen dan bahan evaluasi.
Hampir tak ada bimbingan teknis yang tajam dan jernih bagi guru-guru di
tingkat dasar dan menengah. Kalaupun mereka mempunyai penugasan seperti
penelitian tindakan kelas (PTK), semua dilakukan bukan atas fakta yang terjadi
di kelas dan sekolah, melainkan lebih banyak sebagai dokumen pelengkap
persyaratan kenaikan pangkat dan sebagainya. Pendek kata, tradisi riset yang
sesungguhnya di tingkat dasar dan menengah masih terbilang sangat rendah,
apalagi jika ukurannya publikasi ilmiah hasil riset guru.
Mengapa para guru dan kepala sekolah sulit dalam melakukan riset?
Karena apa yang mereka ajarkan lebih banyak berorientasi pada buku teks resmi
dan miskin pengembangan bahan. Pada akhirnya para guru dan kepala sekolah
enggan mengajarkan sesuatu secara objektif berdasarkan fakta yang terjadi
di sekitar anak didik dan sekolah.
Padahal, objektivitas ialah persyaratan utama bagi seorang peneliti. Jiwa
peneliti tidak tumbuh karena para guru dan kepala sekolah tidak pernah melihat
objektivitas keseharian sebagai sesuatu yang bisa dijadikan bahan riset
pembelajaran. Padahal, menurut Foucault (2007), objektivitas itu sangat
sederhana dan sangat mungkin diteliti setiap saat.
Budaya riset di sekolah
Prinsip pembelajaran merupakan tanggung jawab bersama yang mudah untuk dievaluasi
secara bersama adalah kunci pertama membangun budaya riset di sekolah dengan
baik. Prinsip ini sebenarnya sejalan dengan rencana tindakan kelas (action
class research plan) yang dimiliki rata-rata guru di setiap sekolah.
Lesson design adalah keterampilan pertama yang harus dimiliki guru. Setelah itu,
guru seharusnya dilatih untuk membuat portofolio yang mencatat hampir seluruh
peristiwa yang terjadi di kelas, baik yang menyangkut daya tanggap anak
terhadap mata pelajaran, sikap belajar, serta keinginan untuk berkembang.
Setelah itu, guru diwajibkan secara sistematis membuat jurnal dalam bentuk
curriculuum revision check list yang wajib dishare kepada teman guru
lainnya. Dengan demikian, hampir seluruh tingkatan level manajemen sekolah akan
mengetahui apa yang dilakukan para guru agar mempermudah untuk melakukan
evaluasi dan pengayaan materi sesuai dengan yang diperlukan guru.
Problem mendasar untuk membangun kebiasaan melakukan riset kelas secara
sederhana berdasarkan apa yang terjadi sehari-hari (habit of action research)
bagi guru memang tak mudah. Manajemen sekolah harus serius mencari seribu satu
cara agar seluruh sivitas akademika mencintai sekolah mereka. Sebagai contoh
di Sekolah Sukma Bangsa, Aceh, para guru
beruntung karena secara terstruktur manajemen sekolah memiliki perangkat sistem
manajemen yang integral.
Itu karena ketersediaan sarana sekolah yang memadai dan dikembangkan
menjadi informasi sekolah terpadu online (SISTO) yang memudahkan para guru dalam membuat
jurnal, portofolio, dan curriculuum revision check list. Semua
bentuk tindakan tersebut kemudian menjadi sumber belajar bersama yang selalu
dibagi, dianalisis, dan direfleksikan dengan rencana tindakan-tindakan lainnya
ke depan. Hal itu semua dilakukan dalam rangka menciptakan tujuan pembelajaran
yang mendukung potensi siswa untuk berkembang sesuai dengan talenta mereka.
Ada pernyataan menarik dari Gabel (1995) yang patut dikutip sehubungan
dengan action research: “I feel that we need to make a greater effort
to involve teachers in Action Research. Teachers already know much about
teaching-- more than many of us do……It is through joint research studies that
science instruction in the schools will improve, and we need to make a great
effort in this regard.”
Dari sini kita bisa berkesimpulan bahwa action research memiliki
potensi untuk menciptakan peningkatan kualitas yang relatif stabil di sekolah.
Hal ini memberikan kemungkinan baru kepada pendidik untuk melakukan re-fleksi
terhadap cara mengajar mereka, mencari dan menguji ide, metode, material baru,
serta melihat seberapa efektifnya suatu pendekatan baru diterapkan di sekolah.
Sejalan dengan pemikiran itu, Margaret Walshaw dalam Working with
Foucault in Education (2007) juga menyarankan agar proses pengajaran
dilakukan berdasarkan pengalaman keseharian siswa agar proses risetnya juga
mudah untuk dilakukan para guru. Keunikan lain dari riset berdasarkan catatan
keseharian di kelas dan sekolah adalah memudahkan guru untuk saling berbagi
catatan tentang bakat dan minat siswa yang sesungguhnya.
Riset-riset pendidikan memang ditujukan agar para guru rajin berbagi temuan
sesuai dengan mata pelajaran yang mereka ampu dengan para guru lain. Mengapa
hal ini penting? Karena riset-riset pendidikan yang berkembang saat ini tidak
melulu berkaitan dengan kurikulum, manajemen sekolah, aspek pedagogis guru dan
kepala sekolah, melainkan juga berkaitan langsung dengan lingkungan sosial dan
budaya siswa baik di kelas, sekolah dan di luar sekolah.
Implikasi riset Implikasi riset-riset pendidikan yang berbasis sosial dan
budaya sebenarnya dalam jangka panjang akan membuka mata semua pihak bahwa
penting untuk mengajarkan modelmodel evaluasi pendidikan secara bertahap dan
berkelanjutan yang disesuaikan dengan hasil-hasil riset yang dilakukan sekolah.
Saya membayangkan 10 tahun ke depan akan banyak sekolah dan guru yang
memiliki kemampuan dan keterampilan evaluasi proses belajar yang mereka lakukan
bukan hanya dengan bagaimana menilai sikap anak, tetapi lebih dari itu,
mengombinasi penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik secara bersamaan.
Inilah pendekatan evaluasi yang disebut sebagai kesiapan penilaian kognitif.
Penilaian kesiapan kognitif menuntut semua pemangku kepentingan bidang
pendidikan memiliki kesadaran bahwa menilai dan mengevaluasi siswa harus
komprehensif melalui terawang pengetahuan, keterampilan, dan atribut. Atribut,
menurut bahasa Harold F O’Neil, et al, dalam Teaching and Measuring
Cognitive Readiness (2013), adalah sebuah atribut independen yang
lebih dari sekadar menilai sikap siswa. Bentukan dari sikap pasti memiliki
keterkaitan dengan pengetahuan dan keterampilan siswa.
Atribut juga lebih luas daripada sekadar kompetensi. Jika kompetensi bisa
dilacak dari dasar pengetahuan dan keterampilan siswa, atribut harus dilakukan
secara terus-menerus dengan menilai basis pengetahuan dan keterampilan siswa
secara bersama-sama.
Beberapa pendekatan dalam melakukan evaluasi jenis ini adalah dengan
melihat 1) bagaimana seorang siswa dapat beradaptasi dengan pengetahuan,
keterampilan dan lingkungannya; 2) memiliki keterampilan untuk memecahkan
masalah; 3) memiliki keterampilan berkomunikasi secara efektif; 4) memiliki
kemampuan untuk mengambil keputusan; serta 5) memiliki kesadaran kekinian
terhadap lingkungan sekitar secara baik. Semoga riset-riset kependidikan
berbasis sosial dan budaya bisa dimulai di era Jokowi ini.
Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta | Media Indonesia, 9 Januari
2016



0 komentar:
Posting Komentar