https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Cerpen

Belum Sempat Ku Bahagiakan Mu



SEMERDU kicauan burung yang menari indah, saat seorang gadis yang pesonanya bukan hanya di kagumi dari kecantikannya, tapi juga dari kecerdasannya dalam meraih prestasi itu melintasi taman bunga kedamaian. Lambang kasih sayang sesosok pria kepada anaknya saat itu sangat indah, dapat ia merasakan bagaimana kesenangan saat bersama seseorang yang saling mencinta. Khayalan terasa menyapanya, melambai lambaikan cintanya yang hilang. Tanpa terasa dua butir air bening mengalir dari sudut matanya. “oh, ya Tuhan indah sekali kasih sayang mereka..” ucapnya sambil menghapus air mata

Dua bayangan besar tampak jelas terlihat di depannya, mereka lelaki tua yang mengenakan baju tebal yang membalut tubuh mereka. Wajah gadis itu tampak berat dan terpaksa menunduk, salah satu dari mereka memegang pundaknya. “hey nak, siapa namamu?? Engkau tak boleh ke sini”

Gadis itu tersentak, lalu ia menatap bayangan itu dengan wajah terheran. Tetapi, mengapa bayangan itu hilang? Kemana perginya? Dan mengapa ia hanyalah tinggal sendiri? Gadis itu seakan tak bernyawa, bertanya keras dalam hatinya. Suara suara bergaung dan menderu dalam kepalanya. Gadis itu seakan berteriak dan ketakutan yang tajam datang menghantuinya. “jangan, jangan, jangan ambil nyawanya… aku mohon! Hanya ibu yang kini aku punya”

            “Bangunlah, bunga! Bangun dan berwudhulah..”
            Anak semata wayangnya yang bernama Sari Bunga itu pun tersentak. “untunglah itu hanya sekedar mimpi..” gadis itu menghela nafasnya dengan lega
            “memangnya anak ibu mimpi apa??”
            “bunga rindu ayah bu, bunga takut kehilangan ibu, seperti bunga kehilangan ayah..”
            “jangan pernah takut, apapun itu anak ibu harus siap menghadapinya. Mimpi itu bunga tidur, tidak perlu terlalu di percaya. Bila nyata, yasudah. Bila tidak nyata pun, syukurlah.. Sekarang, berwudhulah..” kata ibu

            Anaknya, yang dipanggil Bunga itu bangkit dan membuka kedua matanya. Menguceknya beberapa kali dan menatap wajah ibunya dengan senyuman lepas. Betapa indah dan teduhnya warna subuh. Suara adzan subuh yang berkumandang melalui spiker tua dari kubah masjid di ujung gang, membuat perasaan gadis itu merdeka. Walau badan masih terasa berat, dengan ketulusan dan keikhlasan yang diwariskan oleh orang tuanya, Bunga mengambil air wudhu. Lalu sembahyang dan berdoa sebisanya.

            Selepas kewajibannya mengerjakan sembahyang sehari lima waktu, ia pun kembali melakukan kesehariannya yang masih duduk dibangku kelas 1 SMA. Dengan membantu ibunya membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan pagi, sebelum beranjak meninggalkan ibunya yang berdagang roti di ujung gang. Mata Bunga menerawang, terkesiap nasehat ibunya. Teringat pula akan impiannya ingin merubah nasib menjadi orang kaya, tetapi sesekali mata Bunga menjadi lengah. Berfikir “mana bisa jadi orang kaya, uang saja tidak punya!”

            “huss, jangan berfikir seperti itu, Bunga. Kalau orang sabar dan mau berusaha pasti ada jalannya. Kaya itu kan tidak harus dengan uang, tapi harus dengan ilmu. Yang penting, anak ibu tidak boleh cepat putus asa, kejar apa yang kamu inginkan..” Sambar ibu sambil menuangkan secangkir teh untuk anak gadisnya.
            “iya sih bu, Bunga yakin, Bunga bakalan jadi orang sukses..”
            “iya, makanya kamu harus berusaha juga disertai doa. Jangan mudah putus asa, mau jadi apa kalau tidak ada ilmu..”
            “iya bu, akan selalu Bunga ingat pesan ibu. Doain bunga ya bu, semoga aja hari ini Bunga bisa jadi juara..” Jawabnya lalu menghirup secangkir teh
            “iya, anak ibu akan selalu menjadi juara. Ibu bangga sama kamu Bunga..”
“Bunga janji bu, bunga bakalan ngebahagiain ibu. Kalau bunga uda banyak uang, ibu ga usah capek capek lagi untuk jualan roti di ujung gang. Bunga bakalan buat toko kue yang besar, apalagi kue ibu kan enak. Laris pula..” ujar Bunga tersenyum ria
“syutt, jangan hanya berjanji. Begini saja, ibu sudah bahagia..”
“iih ibu, insyaallah bunga yakin ada jalannya untuk ngebahagiain ibu.”
Percakapan ibu dan anak perempuannya itu terasa membahagiakan jiwa. Dengan wajah berbinar binar, gadis itu pun mencium kecil pipi ibunya dan melambai lambaikan tangannya sembari berlari mengejar impian yang akan membuahkan kesuksesan. Bunga salah satu siswi terbaik di sekolahnya, ia siswi yang mencerminkan banyak prestasi. Untuk kali ini ia akan membawa nama baik sekolah ke kompetisi kimia. “ingat pesan ibu, bunga.. ingatlah..” bisiknya dalam hati
            “Ibu yakin kamu bisa, cemungutt..” ujar ibu ranti selaku kepala sekolah SMP Merdeka Sari
 Di gedung besar yang penuh pesona terang, di dalam ruangan nan indah gadis itu duduk manis sambil memandang puas setiap sudut ruangan itu. “super sekali..” katanya “kalau nanti aku pulang dengan membawa sebuah penghargaan dan menceritakan keindahan gedung ini. pasti ibu sangat terkagum kagum” ujarnya.

Terlintas senyuman indah dari bibir ibu Kepala Sekolah, ia merasa bangga mempunyai seorang siswi yang baik hati juga cerdas. Gadis cantik yang bernama Bunga itu tak pernah berfikir malu, walau ia hanyalah seorang anak dari pedagang roti. Penuh perjuangan ia melawan sulitnya hidup yang menentangnya dalam bersaing, hingga tibalah saatnya. Detik terakhir yang menyaksikan bahwa gadis cerdas inilah pemenangnya. Perasaan haru tampak dari wajah Bunga, ia tak menyangka kemenangan ini akan membawanya pergi untuk mengejar impiannya. “Alhamdulillah, terima kasih ya Tuhan.. aku bisa melanjutkan sekolahku jauh dari kota ini. Membawa ibuku, hidup tenang..” katanya “ibu, Bunga pulang membawa sejuta kebahagiaan untuk ibu”
“Ibu bangga dengan kamu Bunga…” ujar ibu Ranti
Bunga tersenyum puas, perasaan bangga berbisik indah dalam hatinya. Ia berjalan pelan menuju pulang, walau gerak-geriknya mendesak cepat seakan memaksa. Tiba-tiba rasa cemas timbul dari fikirannya, secepat kilat ia berlari menuju pulang. Terkejut Bunga melihat rumahnya banyak orang. Kedua matanya terbelalak menatap segala yang mencurigakan. Terutama wajah tunduk para tetangga. Tanpa berfikir panjang Bunga langsung masuk ke rumah dan duduk di sebelah kanan ibunya. Dengan sangat terkejut, jidat Bunga mengkerut. “bu, bangun bu.. lihat bu, bunga bawa penghargaan ini buat ibu.” Ujarnya keras

Selimut bewarna kusam itu menutup seluruh tubuh ibunya. Bibirnya bergetar dan matanya mulai menitikkan embun berkaca kaca. “tidurlah yang tenang bu, di sini Bunga akan selalu mendoakan ibu dan mengingat selalu pesan ibu..” kalimat itu yang terucap dari bibir manisnya. Ia memeluk erat tubuh ibunya yang tak bernyawa, seperti memeluk kaktus sakitnya kehilangan seorang ayah dan kini kehilangan seorang ibu. “mengapa mimpiku menjadi nyata?? Secepat inikah ibu pergi? ini masih seperti mimpi..”

Bayangan masa lalu datang dan menyerbu daerah memorinya, kini hanya sebatas kenangan saat bersama ayah dan ibunya. “selamat jalan ibu, semoga ibu bertemu dengan ayah di sana..”

Keberuntungan pun kini jelas menghampiri Bunga, impiannya menjadi sessosok insan Tuhan yang berbuah kesuksesan, benar nyata. Sudah takdir ibu meninggalkan Bunga, bukan karena penyakit jantung yang di derita ibu menekan lagi. Bukan juga karena mimpi buruk semalam. Hatinya masih berat karena di tinggal kedua orang tuanya, tapi 1 hal yang membuatnya ringan untuk melepas kepergian orang tuanya. Pesan seorang ibu, lebih berarti. Kini  ia pun tlah pergi jauh meninggalkan kota kelahirannya, untuk menimba ilmu di negeri seberang.

Datin Sarah, Alumni SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe


About jendelasukma

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.