https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Resensi

Bidadari – Bidadari Surga


      Buku bidadari-bidadari surga ditulis oleh seorang novelis yang akrab disapa dengan nama “Tere Liye”. Tere Liye adalah nama yang berasal dari bahasa India yang berarti “untuk-mu”. Nama asli Tere Liye adalah Darwis. Ia lahir di Bandung pada 21 Mei 1979. Tere liye yang juga merupakan dosen ini telah banyak menulis banyak novel yang tak jarang menjadi best seller di Indonesia, dan tidak sedikit karyanya yang difilmkan.

            Pada novel Bidadari-Bidadari Surga ini, Tere Liye menjadikan dirinya sebagai pencerita, sebagai saksi dari sebuah kehidupan yang ada di Lembah Lahambay. Kisah kehidupan yang menceritakan seorang kakak (Laisa) yang rela mengorbankan hidupnya untuk keempat adiknya (Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, Yashinta). Sejak Ayah mereka meninggal diterkam hewan buas dihutan, Laisa memutuskan sekolahnya, dan membantu Ibu mereka untuk bekerja, dimana untuk membiayai sekolah keempat adiknya tersebut. Ia banting tulang membantu Ibu, dan teruntuk keempat adik-adiknya. Kenyataan pahit ialah; Laisa bukanlah kakak kandung mereka. Namun, sayangnya kepada adik-adiknya melebihi seorang kakak kandung. Laisa, memiliki sifat yang tegas dan tentunya galak. Apalagi menghadapi keempat adik-adiknya. Mulai dari mengejar adiknya yang bolos sekolah, memukul adiknya dengan ranting pohon, dan lain sebagainya. 

Namun, sebenarnya begitulah cara Laisa mengutarakan rasa sayang kepada adik-adiknya; semua juga demi kebaikan adiknya. Ia juga hampir mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan Ikanuri dan Wibisana dari hewan buas. Laisa juga selalu menekankan kepada adik-adiknya untuk terus belajar dan harus bekerja keras. Atas pengorbanan luar biasa Laisa, ia dapat mengantarkan kesuksesan kepada adik-adiknya. Dalimunte, berhasil menjadi profesor di bidang Fisika yang sudah sangat terkenal. Ikanuri dan Wibisana, berhasil mendirikan bengkel mobil modifikasi dan akan membangun pabrik spare-part mobil sport, dan Yashinta si bungsu yang mendapat beasiswa S2 ke Belanda dan menjadi peneliti untuk konservasi ekologi, meneliti tentang burung Peregrin atau Alap-alap Kawah dan sejenisnya, serta menjadi kontributor foto untuk majalah National Geographic. 

Selain pengorbanan untuk ke-empat adiknya. Ia juga membawa perubahan Lembah Lahambay dengan perkebunan stroberi barunya. Namun setelah banyak pengorbanan dan jasa-jasa yang Ia lakukan, masih begitu banyak masalah yang harus dihadapi Laisa, mulai dari tak seorang pun yang mau menikahinya, gunjingan orang-orang tentang ia yang dilintasi adik-adiknya, tentang penyakit kanker yang di deritanya dan masih banyak lagi dan semua itu hanya dijawab Laisa dengan senyuman dan keyakinan bahwa hidup, mati, rezeki dan jodoh ada di tangan Allah. Hingga hari kematian Laisa tiba karena kanker paru-paru stadium IV yang telah disembunyikan dari adik-adiknya selama sepuluh tahun, Allah belum juga menurunkan jodohnya ke bumi. Tapi mamaknya yakin sekali bahwa Lais adalah bidadari surga. Sebagai penulis yang mentransformasikan dirinya sebagai pencerita, Tere Liye juga menyelipkan potongan-potongan ayat suci Al Quran di dalam novel-novel yang ditulisnya.

          Tere Liye dengan gaya penulisannya yang khas, sederhana namun mampu membuat pembaca tersentuh dengan banyak nilai-nilai kemanusiaan. Novel yang indah, realistis dan filosofis yang membuat pembaca terharu sekaligus bisa menerima pesan moral yang begitu luar biasa. Novel setebal 368 halaman ini dikemas dengan begitu cantik, apik, menyentuh, dan sangat manusiawi. Deskripsinya tentang keindahan alam Lembah Lahambay yang dikelilingi batu cadas setinggi lima meter, Gunung Kendeng, sungai, hutan rimba, dan kebun strawberry nyaris sempurna. Pembaca seolah-olah menyaksikan sendiri panorama-panorama tersebut di depan matanya, persis menonton sebuah film dengan alur maju-mundur yang begitu rapat. Terdapat beberapa hal yang mungkin membuat pembaca merasa bingung dan tak mengerti apa yang akan disampaikan oleh penulis, Alur maju mundur yang jarak diantaranya terlalu cepat dan begitu rapat membuat pembaca sedikit kebingungan memahami isi ceritanya. 

Hal ini lah yang sedikit membingungkan pembaca jika pembaca tidak teliti ketika membacanya.Sudut pandang yang digunakan pun bergantian antara para tokoh. Kadang dari sudut pandang tokoh Dalimunte, kadang Wibisana dan Ikanuri, kadang Yashinta, kadang Laisa. Pergantian sudut pandang tersebut tidak berdasarkan bab, tetapi lebih sering pada pergantian subbab. Jadi, harus lebih awas agar tidak bingung dengan pergantian sudut pandang yang tidak menentu itu. Namun secara keseluruhan, sungguh ini merupakan novel yang sangat indah, menyentuh, dan penuh pembelajaran hidup. 

Tere-Liye dengan kata-katanya yang ringan, mudah dimengerti, dan terkadang menggelitik lagi-lagi membius pembacanya, sehingga bisa ikut mengalir dalam setiap kejadiannya. Sungguh cerita perjuangan yang begitu mengharukan. Memberi pelajaran dan mengingatkan pembaca atas makna sebuah kerja keras, kasih sayang, dan ketulusan. Sosok Laisa adalah cerminan manusia yang mengagumkan. Sosok manusia yang tetap berbuat kebaikan dan berusaha memberi manfaat kepada orang lain. Bahkan dia tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Inilah kebahagiaan dan ketulusan kasih sayang yang hakiki. Dalam cerita ini Laisa memberikan sebuah pesan bahwa Kebahagiaan adalah ketika bisa melihat orang lain bahagia. Oleh karena itu, novel ini cocok dibaca oleh semua kalangan terutama mereka yang ingin mengerti makna sesungguhnya dari cinta, kasih sayang dan perjuangan hidup.  (Hilda Savana, X IPA Al-Hambra)

Identitas Buku

Judul               : Bidadari Bidadari Surga
Penulis             : Tere Liye
Penerbit           : Republika
Percetakan       : Cetakan pertama, 1 Juni 2008
Tebal Buku      : 368 halaman
Ukuran Buku  : 20,5 x 13,5 cm

About jendelasukma

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.