
Mungkin saya sedih tapi amanah ayah
saya lebih penting dari segalanya. Beliau mengatakan, “Nak, mungkin ayah hanya
sanggup menguliahkan kamu sampai jadi guru saja”. Saya pun tidak menolak atau
mengeluhkan hal itu. Saya menerima dan meyakinkan diri mungkin semua akan
berkah kalau saya ikuti apa kata orang tua. Tidak masalah tidak menjadi dokter,
toh guru juga sama mulianya seperti profesi dokter.
Hingga sekarang pun, sudah hampir 10
tahun menjadi guru, sedikitpun tidak pernah timbul rasa penyesalan atau
kemalasan dalam menjalani profesi ini. Saya pun rela terbang (red-jalan
kaki/berkendara) kesana kemari hanya untuk mencari pengalaman mengajar yang
berharga dalam hidup.
Beda tempat beda karakter anak yang
kita didik, juga beda cara. Prinsip itu yang terus saya pegang kemanapun saya pergi agar ilmu yang saya bagi
tidak hanya bermanfaat tapi membekas kepada anak. Pengalaman adalah guru
terbaik, pribahasa ini juga telah membuktikan kekuatannya.
Betapa karena pengalaman yang sangat
beragam, ilmu pedagogi saya pun bertambah. Saat saya mengajar anak-anak kampung
yang sebagian besar tinggal di pinggir laut, saya merasakan kebahagiaan yang
luar biasa. Tidak terpikir media apa yang harus dibawa saat itu, metode apa
yang harus dipersiapkan, atau penilaian jenis apa yang akan saya lakukan untuk
mereka. Keadaan menuntut saya untuk melupakan itu semua dan yang saya fikirkan
adalah duduk berkumpul dengan mereka, di pinggir pantai tentunya, kami bicara
dan berlatih mengucapkan benda-benda dan warna-warna dalam B.Inggris.
Pembelajaran yang sangat simple, outdoor, juga tanpa buku dan pulpen, akan tetapi kegiatan menulis
dilakukan dengan lidi atau kayu dengan beralaskan pasir/tanah sebagai media. Kurangnya
fasilitas tidak membuat semangat dan kebersamaan kami dalam proses belajar
mengajar ini menurun. Semua berjalan apa adanya.
Lain halnya ketika saya mengajari
anak-anak di tempat-tempat kursus B.Inggris dan secara private di rumah mereka. Pengalaman ini juga tak bisa dilupakan. Begitu
banyak jam terbang yang harus segera dipenuhi. From door to door teaching experiences, saya banyak belajar
bagaimana cara meng-handle mereka
dengan beragam motivasi belajarnya. Ada yang belajar karena dipaksa orang tua,
ada yang belajar karena ikutan teman, tapi ada juga yang memang ingin belajar
lebih dari Miss Sity.
Mengetahui hal ini, tantangan demi
tantangan terjalani tanpa rasa lelah. Setiap kali hendak ketemu mereka, saya
terus memikirkan cara apa yang cocok untuk mengajarkan B.Inggris ke mereka
dengan tidak memaksakan kehendak, juga tidak terlihat membosankan. Usaha demi
usaha saya lakukan dengan mengubah strategi-strategi yang biasa saya lakukan
menjadi sedikit aneh (red-baru) dan menggembirakan.
Intinya, saya terus mengusahakan
berbagai cara untuk membuat anak didik saya tertarik dengan apa yang saya
ajarkan. Alhasil sebagian besar orang tua dan terutama anak-anak tersebut
berhasil belajar dengan nyaman, tanpa paksaan, dan tanpa beban. Sehingga saya
pun menjadi lebih percaya diri dalam mengajar.
Dengan modal pengalaman mengajar dan
kepercayaan diri itulah saya memberanikan diri untuk menguji kemampuan menjadi
guru di keluarga besar sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe ini. Sempat terdengar
kabar di telinga saya bahwa ini adalah sekolah yang bagus, anak-anak yang
hebat, guru-guru yang luar biasa, dan fasilitas yang super lengkap tercermin
dari banguanan dan gedung sekolah nan megah.
Sepercik harapan langsung muncul
seketika, akankah saya dapat bergabung dan menjadi ikut hebat bersama mereka?
Akankah saya dapat mengejar pengalaman berharga di sekolah ini? Iya,
Alhamdulillah, Allah menjawab doaku. Kini saat telah menjadi bagian dari Sukma,
barulah saya menyadari bahwa saya ini bukanlah siapa-siapa, pengalaman yang
selama ini kubangga-banggakan juga bukan apa-apa. Banyak hal yang harus saya pelajari dari nol
disini. Saya sadar betul bahwa sekolah ini berbeda dengan sekolah-sekolah
tempat saya mengajar dulu.
Tantangan yang saya hadapi juga
berbeda dikarenakan karakter dan background
siswanya yang berbeda. Guru pun dituntut harus kompeten dalam bidang pedagogi.
Guru harus kreatif dan tidak GAPTEK alias Gagap Teknologi. Disinilah saya
mengenal the power of technology dalam
mengajar. Penggunaan media audio visual, proyektor/OHP, laptop/computer, dan
semisalnya harus mampu saya kuasai sebagai guru Sukma Bangsa.
Selain itu, guru dituntut harus
kompeten dalam hal kepribadian dan hubungan sosial. Tidak mengherankan, hal ini
dikarenakan saya dan teman-teman guru yang lain adalah satu tim dalam bekerja.
Hubungan interaksi yang terbentuk sangat intens, makanya sudah sepatutnyalah
saling memahami satu sama lain demi terhindarnya konflik yang mengakibatkan
ketidaknyamanan. Walaupun tidak dinafikan, sesekali hal yang tidak diinginkan
kadang terjadi juga.
Tetapi, sesulit apapun masalah yang
dihadapi, Sukma mampu membentuk kami menjadi karakter yang lebih terbuka dan
mampu menerima kritik dan saran demi perbaikan pekerjaan ataupun terkadang demi
perbaikan yang lebih membangun kepribadian. Perlahan tapi pasti, begitulah diri
saya berkembang menjadi seseorang yang lebih disiplin, bertanggungjawab, dan
lebih profesional dalam menjalani pekerjaan ini. Oleh karena itu, saya berfikir
kalau Sukmalah yang membentuk saya seperti sekarang ini. Sukmaku telah menjadi
kebanggaanku.
Makin bertambah kecintaanku akan
Sukmaku disaat aku menjadi salah seorang yang mendapatkan kesempatan emas untuk
melanjutkan pendidikan program S2 Finlandia. Ini saatnya meningkatkan kualitas
diri sebagai seorang guru yang lebih kompeten dan profesional. Dengan
bertambahnya pengalaman belajar ini, bertambah pula wawasan dan pengetahuan
tentang ilmu kependidikan. Belajar banyak dari kelas-kelas yang ada di Finladia
yang selalu mengedepankan keunikan dan perbedaan dari setiap anak yang belajar.
Equality dan equity adalah prinsip-prinsip yang terus dijunjung tinggi oleh
semua warga sekolah sehingga mereka mampu menciptakan suasana pembelajaran yang
hampir no bullying. Kreatifitas guru
yang tak terbatas dan tidak membatasi anak untuk berkarya serta menjadi independent learners sehingga proses
belajar menjadi maksimal dan sukses. semangat seperti inilah yang ingin saya
usaha sebarkan ke teman-teman guru agar semuanya berfikir bahwa kita juga bisa
menciptakan kader-kader yang punya karakter bagus dalam dunia pendidikan kita.
Oleh: Siti Hajar


0 komentar:
Posting Komentar