https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Esai Guru

Bangga Menjadi Guru



Hasil gambar untuk Bangga Menjadi Guru
Bagi beberapa orang, menjadi guru itu adalah “kecelakaan” atau “kebetulan”. Tapi tidak dengan diriku. Menjadi guru adalah profesi yang sangat saya agung-agungkan. Walaupun bertahun-tahun yang lalu setelah tamat dari bangku SMA, sama dari kebanyakan anak-anak lain, cita-citaku adalah ingin menjadi seorang dokter. Namun apa daya, tangan orang tua saya tak kan pernah sampai untuk membiayai kuliah di fakultas kedokteran.

Mungkin saya sedih tapi amanah ayah saya lebih penting dari segalanya. Beliau mengatakan, “Nak, mungkin ayah hanya sanggup menguliahkan kamu sampai jadi guru saja”. Saya pun tidak menolak atau mengeluhkan hal itu. Saya menerima dan meyakinkan diri mungkin semua akan berkah kalau saya ikuti apa kata orang tua. Tidak masalah tidak menjadi dokter, toh guru juga sama mulianya seperti profesi dokter.

Hingga sekarang pun, sudah hampir 10 tahun menjadi guru, sedikitpun tidak pernah timbul rasa penyesalan atau kemalasan dalam menjalani profesi ini. Saya pun rela terbang (red-jalan kaki/berkendara) kesana kemari hanya untuk mencari pengalaman mengajar yang berharga dalam hidup.

Beda tempat beda karakter anak yang kita didik, juga beda cara. Prinsip itu yang terus saya pegang  kemanapun saya pergi agar ilmu yang saya bagi tidak hanya bermanfaat tapi membekas kepada anak. Pengalaman adalah guru terbaik, pribahasa ini juga telah membuktikan kekuatannya.

Betapa karena pengalaman yang sangat beragam, ilmu pedagogi saya pun bertambah. Saat saya mengajar anak-anak kampung yang sebagian besar tinggal di pinggir laut, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Tidak terpikir media apa yang harus dibawa saat itu, metode apa yang harus dipersiapkan, atau penilaian jenis apa yang akan saya lakukan untuk mereka. Keadaan menuntut saya untuk melupakan itu semua dan yang saya fikirkan adalah duduk berkumpul dengan mereka, di pinggir pantai tentunya, kami bicara dan berlatih mengucapkan benda-benda dan warna-warna dalam B.Inggris.
Pembelajaran yang sangat simple, outdoor, juga tanpa buku dan pulpen, akan tetapi kegiatan menulis dilakukan dengan lidi atau kayu dengan beralaskan pasir/tanah sebagai media. Kurangnya fasilitas tidak membuat semangat dan kebersamaan kami dalam proses belajar mengajar ini menurun. Semua berjalan apa adanya.

Lain halnya ketika saya mengajari anak-anak di tempat-tempat kursus B.Inggris dan secara private di rumah mereka. Pengalaman ini juga tak bisa dilupakan. Begitu banyak jam terbang yang harus segera dipenuhi. From door to door teaching experiences, saya banyak belajar bagaimana cara meng-handle mereka dengan beragam motivasi belajarnya. Ada yang belajar karena dipaksa orang tua, ada yang belajar karena ikutan teman, tapi ada juga yang memang ingin belajar lebih dari Miss Sity.

Mengetahui hal ini, tantangan demi tantangan terjalani tanpa rasa lelah. Setiap kali hendak ketemu mereka, saya terus memikirkan cara apa yang cocok untuk mengajarkan B.Inggris ke mereka dengan tidak memaksakan kehendak, juga tidak terlihat membosankan. Usaha demi usaha saya lakukan dengan mengubah strategi-strategi yang biasa saya lakukan menjadi sedikit aneh (red-baru) dan menggembirakan.

Intinya, saya terus mengusahakan berbagai cara untuk membuat anak didik saya tertarik dengan apa yang saya ajarkan. Alhasil sebagian besar orang tua dan terutama anak-anak tersebut berhasil belajar dengan nyaman, tanpa paksaan, dan tanpa beban. Sehingga saya pun menjadi lebih percaya diri dalam mengajar.

Dengan modal pengalaman mengajar dan kepercayaan diri itulah saya memberanikan diri untuk menguji kemampuan menjadi guru di keluarga besar sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe ini. Sempat terdengar kabar di telinga saya bahwa ini adalah sekolah yang bagus, anak-anak yang hebat, guru-guru yang luar biasa, dan fasilitas yang super lengkap tercermin dari banguanan dan gedung sekolah nan megah.

Sepercik harapan langsung muncul seketika, akankah saya dapat bergabung dan menjadi ikut hebat bersama mereka? Akankah saya dapat mengejar pengalaman berharga di sekolah ini? Iya, Alhamdulillah, Allah menjawab doaku. Kini saat telah menjadi bagian dari Sukma, barulah saya menyadari bahwa saya ini bukanlah siapa-siapa, pengalaman yang selama ini kubangga-banggakan juga bukan apa-apa.  Banyak hal yang harus saya pelajari dari nol disini. Saya sadar betul bahwa sekolah ini berbeda dengan sekolah-sekolah tempat saya mengajar dulu.

Tantangan yang saya hadapi juga berbeda dikarenakan karakter dan background siswanya yang berbeda. Guru pun dituntut harus kompeten dalam bidang pedagogi. Guru harus kreatif dan tidak GAPTEK alias Gagap Teknologi. Disinilah saya mengenal the power of technology dalam mengajar. Penggunaan media audio visual, proyektor/OHP, laptop/computer, dan semisalnya harus mampu saya kuasai sebagai guru Sukma Bangsa.

Selain itu, guru dituntut harus kompeten dalam hal kepribadian dan hubungan sosial. Tidak mengherankan, hal ini dikarenakan saya dan teman-teman guru yang lain adalah satu tim dalam bekerja. Hubungan interaksi yang terbentuk sangat intens, makanya sudah sepatutnyalah saling memahami satu sama lain demi terhindarnya konflik yang mengakibatkan ketidaknyamanan. Walaupun tidak dinafikan, sesekali hal yang tidak diinginkan kadang terjadi juga.

Tetapi, sesulit apapun masalah yang dihadapi, Sukma mampu membentuk kami menjadi karakter yang lebih terbuka dan mampu menerima kritik dan saran demi perbaikan pekerjaan ataupun terkadang demi perbaikan yang lebih membangun kepribadian. Perlahan tapi pasti, begitulah diri saya berkembang menjadi seseorang yang lebih disiplin, bertanggungjawab, dan lebih profesional dalam menjalani pekerjaan ini. Oleh karena itu, saya berfikir kalau Sukmalah yang membentuk saya seperti sekarang ini. Sukmaku telah menjadi kebanggaanku.

Makin bertambah kecintaanku akan Sukmaku disaat aku menjadi salah seorang yang mendapatkan kesempatan emas untuk melanjutkan pendidikan program S2 Finlandia. Ini saatnya meningkatkan kualitas diri sebagai seorang guru yang lebih kompeten dan profesional. Dengan bertambahnya pengalaman belajar ini, bertambah pula wawasan dan pengetahuan tentang ilmu kependidikan. Belajar banyak dari kelas-kelas yang ada di Finladia yang selalu mengedepankan keunikan dan perbedaan dari setiap anak yang belajar. Equality dan equity adalah prinsip-prinsip yang terus dijunjung tinggi oleh semua warga sekolah sehingga mereka mampu menciptakan suasana pembelajaran yang hampir no bullying. Kreatifitas guru yang tak terbatas dan tidak membatasi anak untuk berkarya serta menjadi independent learners sehingga proses belajar menjadi maksimal dan sukses. semangat seperti inilah yang ingin saya usaha sebarkan ke teman-teman guru agar semuanya berfikir bahwa kita juga bisa menciptakan kader-kader yang punya karakter bagus dalam dunia pendidikan kita.
Oleh: Siti Hajar         

About Indeks

Situs ini pertama kali diindeks oleh Google pada Januari 2012. Koneksi Anda ke situs ini aman.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.