Ada rasa kepuasan
tersendiri ketika menjadi guru yang dapat
memberikan ilmu kepada siswa, mempunyai kedekatan emosional yang baik dan ketika muridku menjadi sahabatku. Itu yang
pernah saya rasakan, karena menjadi seorang guru bukan hanya mentransfer ilmu
saja, namun menjadi guru yang the best
adalah dapat merubah si anak dari yang negatif menjadi
yang positif. Hal itu menjadi tantangan bagi saya untuk terus menjadi guru yang
di idam-idamkan oleh siswa.
Saya ingin berbagi sedikit
pengalaman yang mungkin bisa dibilang cukup berkesan dalam hidup saya ketika
saya menjadi seorang guru. Sebut saja Firza, dia adalah siswa yang memiliki
sikap kepedulian yang sangat tinggi, disamping itu pula, Firza juga termasuk siswa baik, aktif, dan kritis.
Ketika mengajar dikelasnya banyak
tantangan yang harus dilalui salah satunya
metode yang saya terapkan.
Dikelas tersebut dapat
dikatakan bahwa siswa- siswi nya lumayan
pintar, aktif. Dan kalau kurang tepat dalam menghandle dan menggunakan metode
maka akan menjadi kelas yang sedikit ribut. Maka pada saat memulai pembelajaran
langkah pertama yang saya tempuh adalah dengan memberikan games sekitar 7 menit supaya semua siswa termotivasi nantinya ketika
menerima materi yang saya ajarkan.
Ternyata, games yang saya
berikan sebagai energizer, malah
diminta tambah oleh murid yang bernama Firza, kata dia “gamenya sih seru buk,
lanjut aja”. namun saya hanya bilang “sudah dulu nak dipertemuan selanjutnya
kita buat lagi tapi Firza yang pimpin”. “Oke never maind”, katanya.
Masuklah dibagian inti,
harapan saya materi tentang gelombang tersampaikan dan dapat dicerna dengan
baik oleh siswa tercinta, dengan metode kelompok dan diskusi, terciptalah suasana kelas aktif
dan siswa terlibat sepenuhnya dalam mendiskusikan materi, serta inisiatif dalam
mencari sumber referensi tentang gelombang. Ketika diskusi kelompok berlangsung, terlihat oleh saya ada satu
kelompok diskusi yang heboh sekali dan bisa dibilang sedikit ribut.
Ternyata ketua kelompoknya
Firza, langsung saya dekati kelompok itu dan menanyakan perihal tersebut, ketika saya crosscheck rupanya mereka mendiskusikan hal yang lain diluar topik,
sehingga yang seharusnya didiskusikan tidak sepenuhnya terselesaikan. Tapi menariknya, ketua kelompoknya menjawab “tenang buk Zawa, kami
akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas kami, tapi berikan kami tambahan
waktu”. Lalu saya jawab, “oke, ibu akan tantang kalian dengan waktu tambahan 5
menit tetapi kalian harus siap”. Kelas kembali kondusif, dan diskusi kelompok terus
berlanjut sampai waktu yang saya tentukan.
Sampailah pada tahap yang
ditunggu-tunggu, semua kelompok sudah siap untuk persentasi termasuk kelompok yang sempat membuat
keributan. Sebelum persentasi saya memberikan statement bahwa siapa yang pertama tampil maka ibu berikan
penambahan nilai +10 untuk kelompok tersebut. Maka siapa sangka! kelompok yang buat
keributanlah yang mengacungkan tangannya untuk pertama tampil.
Dengan penuh semangat
semua anggota kelompok Firza maju, namun sebelum mereka persentasi sempat
terbersit dalam hati saya “ kelompok ini waktu persentasinya pasti kacau balau”
ternyata diluar dugaan saya, persentasi
luar biasa dan kelompok lain dibuatnya terpancing untuk aktif bertanya dan kreatifnya
kelompok tesebut menggunakan tali yang ada dikelas untuk mendamonstrasikan
materi gelombang.
Saya pun mengajukan satu
pertanyaan, dan ternyata bisa dijawab juga oleh kelompok tersebut. Diakhir
persentasi saya memberikan apresiasi
untuk kelompok tersebut yang luar biasa performance
nya. Sebelum ditutup Firza mewakili kelompoknya meminta maaf kepada saya dan
kepada kelompok yang lainnya karena sudah membuat keributan dan memberi pesan
juga supaya teman yang lain supaya jangan meniru keributan mereka tadi.
Pada saat itu pula
terbersit lagi dalam hati saya “ saya bangga punya siswa seperti Firza”
walaupun dia sempat membuat keributan tapi dia mampu mempresentasikan tugas
kelompoknya dengan sangat baik dan berjiwa besar. Dan setelah itu secara
bergilir kelompok lain pun persentasi dengan gaya mereka masing-masing dengan
topik yang sama yaitu gelombang.
Saatnya saya mengambil
peran sebagai pengamat dan penilai di akhir sesi dengan memberikan pertanyaan
dan memberikan kesempatan siapa yang dapat menarik kesimpulan dari materi
gelombang yang sudah dipelajari melalui persentasi.
Disitu sangat kelihatan
mana siswa yang belajarnya serius dan yang tidak ketika berdiskusi kelompok,
mana siswa yang aktif, inisiatif, dan pasif ketika yang lainnya persentasi, Semua
itu saya berikan nilai sesuai dengan kemampuan dan kinerja kelompok serta ketika
persentasi. Di akhir sesi pun saya memberikan feedback tentang materi tersebut dan apresiasi kepada setiap
kelompok , karena semua kelompok berhak mendapatkan itu.
Tidak terasa sesi jam fisika
pun berakhir. Sayapun menutup pelajaran pada hari itu. Kemudian ketika saya
hendak keluar menuju ke kantor, rupanya ada siswa yang mendatangi saya ,
katanya, “ buk, saya mau ngomong,, ada apa? Tanya saya, perihal tadi yaa,”ia
katanya,,saya mau minta maaf sudah membuat keributan tadi, saya melakukan tadi
karena ada sedikit masalah dirumah yang akhirnya berefek ketika belajar,
makanya kurang serius.” Ooooh jawab saya, tak jadi masalah yang penting kamu
sudah memberikan yang terbaik tadi ketika persentasi, kedepan jangan diulangi
lagi”. Makasih bu, jawabnya. Namun saya masih penasaran ada apa dengan Firza ? keingintahuan
saya sangat besar.
Keesokan harinya Firza
menjumpai saya di kantor guru. Dia menceritakan perihal yang terjadi
dikeluarganya. Disaat itulah saya menyadari bahwa tingkah laku Firza kemarin
yang kurang baik disebabkan oleh faktor keluarga. Sekarang saya memahami bahwa
apapun tingkah siswa yang tidak baik terkadang bukan keinginannya sendiri,
namun ada faktor lain. Jadi kita sebagai
guru harus mencari tahu apa yang menyebabkan siswa bertingkah laku kurang baik,
seperti membuat keributan, malas belajar, tidak disiplin dan lain sebagainya.
Menjadi guru itu tidak
hanya mengajar didalam kelas. Tetapi guru itu harus bisa menjadi sahabat bagi siswanya.
Menjadi tempat siswa menyampaikan keluh kesahnya. Dan yang terpenting kita
harus bisa memotivasi siswa untuk
menjadi lebih baik, dan tentunya kita sebagai guru harus terus belajar dari
setiap kesalahan serta menjadi panutan bagi siswa. Dengan begitu kita akan
senantiasa dikenang sampai kapanpun oleh siswa kita.
Oleh: Zawahir


0 komentar:
Posting Komentar