Dewasa ini aksi bullying atau perundungan semakin marak di lingkungan kita. Mulai dari kalangan anak kecil, remaja, hingga orang dewasa. Bisa dilihat dari kasus-kasus pelajar yang tawuran di mana-mana. Tampaknya bullying bukan lagi suatu hal yang tabu di kalangan remaja. Tanpa sedikit pun rasa bersalah mereka mengejek, menyakiti bahkan menyiksa teman seusianya. Hal ini menunjukkan betapa mirisnya pendidikan karakter di negara kita saat ini.
Bullying
sendiri merupakan tindakan merendahkan orang lain yang dianggap lebih lemah.
Tiga bentuk tindakan bullying yaitu secara verbal, psikologis, dan fisik. Yang
pertama secara verbal yaitu pelaku merendahkan, menghina, membentak dengan
kata-kata kasar. Secara psikologis pelaku mempermalukan serta menyebar
fitnah target yang mereka incar. Terakhir secara fisik, yaitu pelaku menyakiti
fisik si korban misalnya memukul, menampar, mendorong dan lain-lain.
Penyebab kasus bullying sendiri pada
umumnya berawal dari pelaku yang merasa dirinya paling berkuasa dan merasa
hebat jika melakukan kekerasan terhadap korban. Penyebab lainnya yaitu perilaku
korban yang dianggap salah oleh pelaku sehingga memancing si pelaku untuk
melakukan tindakan bullying.
"Bullying", satu kata yang
berdampak besar bagi korban maupun pelakunya. Korban bullying pasti akan
kehilangan kepercayaan diri, takut untuk mengemukakan pendapatnya, dan dominan
menutup diri dari kehidupan bermasyarakat. Dan lebih parahnya lagi korban bisa
stress hingga depresi. Umumnya pelaku bullying berpotensi menjadi perilaku kriminalitas.
Mereka merasa paling benar, padahal tindakannya tidak mencerminkan bahwa
dirinya benar.
Menurut saya, kebiasaan bullying
harus dihapuskan mulai sekarang. Bullying benar-benar tidak sehat bagi
kelangsungan kehidupan negara kita. Generasi muda sekarang sudah lupa cara
menghargai orang lain. Meskipun sulit untuk dihilangkan, setidaknya bisa
diminimalisasi dengan meningkatkan sikap menghargai orang lain dimuali dari diri
kita sendiri.
Peran orang tua juga sangat
dibutuhkan untuk membentuk karakter anak yang baik. Anak-anak khususnya remaja
cenderung mencerminkan perilaku orang-orang di lingkuran keluarganya dalam
kehidupan sehari-hari. Perhatian dari keluarga khususnya orang tua sangat
dibutuhkan. Anak-anak yang mendapatkan perhatian yang cukup dari keluarga dan
orangtua umumnya tumbuh menjadi anak yang baik, berakal sehat, dan tentu jauh
dari sikap "pem-bully"-an.
Sebagai remaja yang baik, seharusnya
kita sadar bahwa bullying atau perundungan bukanlah hal yang sepatutnya dilakukan. Banyak hal baik
yang bisa kita lakukan, bukan? Mari ciptakan kehidupan bermasyarakat yang nyaman tanpa bullying. Stop mengomentari
kekurangan orang lain! Mulailah melihat kekurangan diri sendiri, lalu perbaiki.
Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Nilai
diri sendiri terlebih dahulu sebelum menilai orang lain. Ambil sisi positif
dan buang sisi negatifnya. Mulailah jadi manusia yang sehat hati, pikiran, dan
perbuatan.
Penulis: Annisa Fitri Mulyani
Siswi Kelas XII IPA Kuta Alam, SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe



0 komentar:
Posting Komentar