https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Cerpen

Dialog Diri Pada Senja


Hasil gambar untuk Dialog Diri Pada Senja

Tahukah kalian kisah sang pencari asa pada gulita malam? Menopang tubuh pada tangisan lelah tanpa daya dan upaya. Kisah selingan penghantar tidurku. Tentang betapa problematika kehidupan mengisi perjalanan hari. Pada setiap kegagalan yang timbul tanpa pasti, setiap keputusasaan yang sudah larut, pada takdir yang tak berpihak.
Ini masih tentang sang pencari asa. Namun ia tidak sendiri, karena sang pencari asa adalah setiap insan di muka bumi ini. Tak peduli siapa kamu, kamu adalah sang pencari asa dengan cita-citamu. Ya, termasuk aku.
Dan juga, ini tentang dialog antara diri dengan diri. Setiap potongan memori yang muncul di kepalaku selalu menarik untuk ditelaah. Aku penasaran akan jutaan hal yang ada di muka bumi ini. Tentang seperti bagaimana sebuah bahasa dapat menjadi alat komunikasi, kesalahpahaman menjadi masalah sejuta umat, begitupun bagaimana suatu bangsa dapat lahir.
Aku bangsa Indonesia?
Ya.
Apa aku bangga menjadi bangsa Indonesia?
Maka aku akan bertanya balik, kalian ingin jawaban jujur atau sebaliknya? Karena untuk mendefinisikan kebanggan saja masih belum kentara. Belum lagi memikirkan betapa bangganya aku menjadi bangsa Indonesia. Ini bukan hanya soal nasionalisme, tapi ini juga menyangkut aspirasiku sebagai bagian dari bangsa. Tentang apa yang sudah aku beri dan aku terima dari bangsa ini. Apa yang kutuai dan apa yang kudapat. Tapi pilihanku adalah, aku akan menjawab jujur, aku tidak tahu.
Guru sejarahku sebelumnya pernah bertanya pada suatu hari di kelas. “Apakah kalian bangga menjadi orang Indonesia?”, Aku hanya bisa terdiam, karena jujur aku belum merasakan hal itu.
Waktu itu adalah pertama kalinya aku ditanya langsung tentang kebanggaanku menjadi bangsa Indonesia. Dan sulit rasanya untuk memikirkan jawabannya. Aku hanya merasa hambar saat rata-rata teman sekelasku menjawab bahwa mereka bangga. Rasannya kebanggaan itu tidak terasakan. Esensi dari sebuah kebanggaan tidak kutemukan.
Lama aku berpikir. Aku memikirkan apa sebenarnya itu kebanggaan dan apa yang membuatku bangga akan hal ini. Tapi sejuta memori tentang pemberitaan stasiun televisi akan kekacauan negara ini tak dapat kulupakan. Mulai dari narkoba, korupsi, pelecehan agama, pelanggaran HAM, dan lain sebagainya.
Kalian tahu apa satu kata yang dapat mewakili semuanya? Miris.
Aku selalu sensitif saat membahas kekacauan negara ini. Aku tidak menyalahkan bangsa ini, tidak. Tapi aku menyalahkan diriku sendiri yang hanya bisa diam menatap hingar bingar kekacauan dengan mata telanjang. Aku hanya kaku dan bingung harus berkata apa. Rasanya untuk menaruh perasaan bangga terhadap negeri saja aku tak pantas.
Tapi kembali lagi pada kebanggaan itu apa. Menurutku, kebanggaan itu tentang rasa. Rasa bahagia karena memiliki sesuatu yang kita anggap luar biasa. Pertanyaan selanjutnya, apakah Indonesia luar biasa?
Jawabannya adalah ya. Tidak ada alasan khusus, namun aku merasakannya.
Hingga suatu sore aku berjalan pada setapak entah berantah. Merunduk pada pikiran dalam benak. Rasanya kegaduhan setiap insan hilir mudik tidak dapat tersaingi oleh teriakan setiap pikiran dalam kepalaku saat itu.
Saat itu, pada senja. Pada senja yang menyingsing langit. Pada torehannya yang akan selalu jingga. Pada setiap rumah yang menyambut peluh tuannya. Pada setiap kata yang tak sempat ditorehkan kala fajar.
Senja dan fajar. Dua peristiwa yang terjadi setiap hari namun sekejap mata. Dua waktu saat berlangsungnya sunset dan sunrise. Dua hal indah yang menyadarkanku bahwa keindahan hanya bersifat sementara. Namun jikalau engkau mau menunggu dia dapat terjadi berulang kali. Dan jikalau aku harus memilih diantara keduanya, pilihanku adalah senja. Karena senja menjawab pertanyaanku selama ini, menjelaskanku akan esensi atau makna kebanggaan itu sendiri.
Senja itu. Oktober 2016.
Aku bingung. Aku berbicara pada jutaan suara dalam tubuhku ini.
“Sebenarnya kebingungan apa yang aku rasakan?”, tanyaku.
Jutaan suara itu sahut menyahut dan kala menjadi satu. “Kau terlalu larut dalam kebingungan jati diri”.
“Jati diri?”.
“Jati diri adalah siapa kamu”, latunan kata yang tak kuyakini sebagai sorakan dalam diriku. Hingga aku pun membuka mata dan mendapati sepasang sepatu converse hitam bersama pemiliknya berada di hadapanku.
“Kamu siapa?”, tanya si pemilik converse hitam tersebut.
Aku masih bingung harus berkata apa. Sehingga aku hanya menatapnya dengan ekspresi tak terbaca dan kerutan dahi yang membuat alisku tampak menyatu.
“Maaf sebelumnya jika aku tidak sopan atau membuatmu merasa terganggu”, ucapnya yang justru membuatku merasa bersalah.
“Kenapa kamu mau mengajakku berbicara?”, akhirnya aku mengeluarkan suara.
“Memangnya kenapa?”, tanyanya balik. “.. dan kenalkan namaku Senja”.
Aku berkenalan dengan Senja disaat senja. Cukup menarik.
“Tapi aku tidak bertanya namamu”, ucapku.
“Dan aku hanya ingin memberitahukan namaku”.
“Baiklah Senja. Jadi, apa maumu?”.
“Aku hanya ingin tahu apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Bukankah kita hanya orang asing? Mengapa aku harus menceritakan sesuatu kepadamu?”
“Jika begitu, anggaplah aku hanya sebagai orang tanpa embel-embel asingnya”, katanya tegas. Baiklah kuakui ia tampak bisa dipercaya. Tapi, siapa yang tahu?
“Ok”. Hanya itu yang kuucapkan sebelum sepuluh menit kemudian perlahan menjadi keheningan yang ajaibnya tanpa rasa canggung.
“Aku bingung”, ucapku.
“Tampak dari wajahmu”.
“Aku tidak tahu kamu akan menyukai pembahasan ini atau tidak. Tapi, apa arti bangga menurutmu?”
“Bangga? Aku bangga ketika aku bisa melakukan sesuatu yang berharga. Jadi menurutku, bangga adalah ketika sesuatu terlihat sangat berharga dan pantas diapresiasikan. Sekiranya begitu”.
“Aku setuju. Tapi masih belum menjawab semua kebingunganku”.
“Kalau begitu, ceritakan semua kebingunganmu. Aku siap mendengarkan”, ucap Senja sambil tersenyum. Kalian tahu apa? Senyumnya itu menular, hingga aku pun tersenyum.
“Apakah aku harus bangga menjadi orang Indonesia?”, tanyaku.
“Apakah ada alasan yang menjadikanmu tidak bangga dengan Indonesia?”, tanyanya balik. Satu hal yang dapat kusimpulkan, Senja suka bertanya balik.
“Tentunya ada. Aku merasa kosong saat membahas kebanggaan akan bangsa ini. Aku merasa semua masalah pada negeri ini adalah penyebabnya”.
“Kau tahu apa? Masalah tidak akan lahir tanpa penyebabnya. Maka sekarang aku akan bertanya, siapa yang menciptakan permasalahan di negeri ini?”.
“Orang-orangnya. Manusia-manusianya”, jawabku.
“Iya. Kekacauan disebabkan oleh manusia itu sendiri. Tapi jangan lupakan bagaiman kisah-kisah perjuangan pahlawan terdahulu dalam meraih kemerdekaan. Belum lagi, anak-anak emas bangsa yang menorehkan prestasinya hingga ke kancah Internasional”.
“Aku tidak tahu harus menjawab apa”.
“Baiklah biarkan aku bertanya dan tugasmu hanya menjawab. Pertanyaan pertama, apa yang kamu perlukan untuk sebuah kebanggaan?”
“Sesuatu yang luar biasa mungkin?”
“Apakah dirimu luar biasa?”
“Sepertinya tidak”, ucapku ragu-ragu. Memangnya apa yang hebat dari diri ini.
“Berarti kamu tidak bangga dengan dirimu sendiri?”
“Bukan begitu. Aku hanya tidak tahu apa yang patut dibanggakan akan diriku sendiri”.
“Bagaimana kamu dapat bangga dengan bangsa yang besar ini, jika kamu tidak bangga dengan dirimu sendiri?”, ucapannya itu sangat menohok.
“Apakah itu pertanyaan yang kedua?”, ia mengangguk. “Jawabannya adalah aku tidak tahu”.
“Begini, siapapun kamu, kamu harus mencintai dirimu sendiri. Itu hal terpenting. Dengan mencintai diri sendiri maka kamu akan bangga terhadap dirimu sendiri. Bangga terhadap diri sendiri tidak harus dengan menjadi siswa terpintar di kelas, gadis yang cantik, atau segala jenis kebanggaan lumrah semata. Tapi kebanggaan juga tentang bagaimana kamu menerima dirimu sendiri”.
“Aku menerima diriku apa adanya. Tapi terkadang aku masih merasa minder dan mengeluh”.
“Jika begitu, kamu tidak sepenuhnya menerima dirimu sendiri, maka aku maklum jika kamu belum mendapatkan esensi dari kebanggan menjadi bangsa Indonesia”.
“Mengapa begitu?”
“Ini bukan hanya tentang Indonesia. Tapi ini tentang Kamu dan Indonesia. Kita dan Indonesia”.
“Aku dan Indonesia?”.
“Iya, karena kamu harus belajar mencintai dirimu sendiri, baru kamu bisa mencintai bangsa ini. Dan kamu tahu? Mencintai itu memang buta. Karena seakan-akan kita tidak dapat melihat keburukan dari hal yang kita cintai. Namun sebenarnya, kita bukan tak dapat melihat keburukan itu. Tetapi, kita dapat menerima keburukan itu”.
“Dan hukum itu juga berlaku untuk Indonesia?”
“Cukup lucu ketika kamu menyimpulkan itu sebagai suatu hukum. Tapi, ya. Walaupun Indonesia dengan segala masalah politik dan ekonominya yang menyita masyarakat. Akan tetapi masyarakat yang bangga akan tetap menerima itu. Dalam artian mereka tidak menjadikannya sebuah masalah yang patut disesali atau didiamkan. Tapi mereka menjadikan itu sebuah tantangan untuk diri sendiri agar mendapatkan solusi menyelesaikannya”. Hal kedua yang dapat kusimpulkan, pemikiran Senja sungguh luar biasa.
“Jadi aku harus mulai untuk mencari sisi positif Indonesia dan melupakan sisi buruknya?”.
“Tidak. Kamu harus mencoba untuk mencintai diri sendiri”.
“Setelah itu apa yang harus aku lakukan?”
“Mencari sisi positif dari segala hal dan menerima keburukan hal tersebut, termasuk Indonesia”.
“Apa setelah itu aku akan bangga menjadi orang Indonesia?”
“Kita akan melihatnya nanti”, ucapnya. “Bolehkah aku bertanya siapa namamu?”
“Senja”, ia tampak seperti terkejut. “Jangan terkejut, namaku Putri Aurellia Senja”.
Ya, namaku Senja dan aku bertemu Senja lainnya di kala senja.
“Pertemuan yang unik”, ucapnya sambil tersenyum miring dan melihat langit dengan torehan senja kala petang.”… dan luar biasa”. Ada satu kesimpulan terakhir, senyum Senja itu menular.
“Aku bangga bertemu denganmu Senja”, ucapku. “Aku pun begitu”, ucapnya.
Pada senja itu. Pertemuan luar biasa berlangsung antara diriku dengan Senja. Tentang Senja yang memberiku sesuatu yang tak terkira. Sangat berharga. Ia tidak hanya menjawab kebingunganku, tapi ia membuatku sadar akan keluarbiasaan diriku sendiri.
Salam Senja.


Karya: Siti Zahwa Humaira



About Indeks

Situs ini pertama kali diindeks oleh Google pada Januari 2012. Koneksi Anda ke situs ini aman.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.