
Tahukah
kalian kisah sang pencari asa pada gulita malam? Menopang tubuh pada tangisan
lelah tanpa daya dan upaya. Kisah selingan penghantar tidurku. Tentang betapa
problematika kehidupan mengisi perjalanan hari. Pada setiap kegagalan yang
timbul tanpa pasti, setiap keputusasaan yang sudah larut, pada takdir yang tak
berpihak.
Ini
masih tentang sang pencari asa. Namun ia tidak sendiri, karena sang pencari asa
adalah setiap insan di muka bumi ini. Tak peduli siapa kamu, kamu adalah sang
pencari asa dengan cita-citamu. Ya, termasuk aku.
Dan
juga, ini tentang dialog antara diri dengan diri. Setiap potongan memori yang
muncul di kepalaku selalu menarik untuk ditelaah. Aku penasaran akan jutaan hal
yang ada di muka bumi ini. Tentang seperti bagaimana sebuah bahasa dapat
menjadi alat komunikasi, kesalahpahaman menjadi masalah sejuta umat, begitupun
bagaimana suatu bangsa dapat lahir.
Aku
bangsa Indonesia?
Ya.
Apa
aku bangga menjadi bangsa Indonesia?
Maka
aku akan bertanya balik, kalian ingin jawaban jujur atau sebaliknya? Karena untuk
mendefinisikan kebanggan saja masih belum kentara. Belum lagi memikirkan betapa
bangganya aku menjadi bangsa Indonesia. Ini bukan hanya soal nasionalisme, tapi
ini juga menyangkut aspirasiku sebagai bagian dari bangsa. Tentang apa yang
sudah aku beri dan aku terima dari bangsa ini. Apa yang kutuai dan apa yang
kudapat. Tapi pilihanku adalah, aku akan menjawab jujur, aku tidak tahu.
Guru
sejarahku sebelumnya pernah bertanya pada suatu hari di kelas. “Apakah kalian
bangga menjadi orang Indonesia?”, Aku hanya bisa terdiam, karena jujur aku
belum merasakan hal itu.
Waktu
itu adalah pertama kalinya aku ditanya langsung tentang kebanggaanku menjadi
bangsa Indonesia. Dan sulit rasanya untuk memikirkan jawabannya. Aku hanya
merasa hambar saat rata-rata teman sekelasku menjawab bahwa mereka bangga.
Rasannya kebanggaan itu tidak terasakan. Esensi dari sebuah kebanggaan tidak
kutemukan.
Lama
aku berpikir. Aku memikirkan apa sebenarnya itu kebanggaan dan apa yang
membuatku bangga akan hal ini. Tapi sejuta memori tentang pemberitaan stasiun
televisi akan kekacauan negara ini tak dapat kulupakan. Mulai dari narkoba,
korupsi, pelecehan agama, pelanggaran HAM, dan lain sebagainya.
Kalian
tahu apa satu kata yang dapat mewakili semuanya? Miris.
Aku
selalu sensitif saat membahas kekacauan negara ini. Aku tidak menyalahkan
bangsa ini, tidak. Tapi aku menyalahkan diriku sendiri yang hanya bisa diam
menatap hingar bingar kekacauan dengan mata telanjang. Aku hanya kaku dan
bingung harus berkata apa. Rasanya untuk menaruh perasaan bangga terhadap
negeri saja aku tak pantas.
Tapi
kembali lagi pada kebanggaan itu apa. Menurutku, kebanggaan itu tentang rasa.
Rasa bahagia karena memiliki sesuatu yang kita anggap luar biasa. Pertanyaan
selanjutnya, apakah Indonesia luar biasa?
Jawabannya
adalah ya. Tidak ada alasan khusus, namun aku merasakannya.
Hingga
suatu sore aku berjalan pada setapak entah berantah. Merunduk pada pikiran
dalam benak. Rasanya kegaduhan setiap insan hilir mudik tidak dapat tersaingi
oleh teriakan setiap pikiran dalam kepalaku saat itu.
Saat
itu, pada senja. Pada senja yang menyingsing langit. Pada torehannya yang akan
selalu jingga. Pada setiap rumah yang menyambut peluh tuannya. Pada setiap kata
yang tak sempat ditorehkan kala fajar.
Senja
dan fajar. Dua peristiwa yang terjadi setiap hari namun sekejap mata. Dua waktu
saat berlangsungnya sunset dan sunrise. Dua hal indah yang
menyadarkanku bahwa keindahan hanya bersifat sementara. Namun jikalau engkau
mau menunggu dia dapat terjadi berulang kali. Dan jikalau aku harus memilih
diantara keduanya, pilihanku adalah senja. Karena senja menjawab pertanyaanku
selama ini, menjelaskanku akan esensi atau makna kebanggaan itu sendiri.
Senja
itu. Oktober 2016.
Aku
bingung. Aku berbicara pada jutaan suara dalam tubuhku ini.
“Sebenarnya
kebingungan apa yang aku rasakan?”, tanyaku.
Jutaan
suara itu sahut menyahut dan kala menjadi satu. “Kau terlalu larut dalam
kebingungan jati diri”.
“Jati
diri?”.
“Jati
diri adalah siapa kamu”, latunan kata yang tak kuyakini sebagai sorakan dalam
diriku. Hingga aku pun membuka mata dan mendapati sepasang sepatu converse hitam bersama pemiliknya berada
di hadapanku.
“Kamu
siapa?”, tanya si pemilik converse
hitam tersebut.
Aku
masih bingung harus berkata apa. Sehingga aku hanya menatapnya dengan ekspresi
tak terbaca dan kerutan dahi yang membuat alisku tampak menyatu.
“Maaf
sebelumnya jika aku tidak sopan atau membuatmu merasa terganggu”, ucapnya yang
justru membuatku merasa bersalah.
“Kenapa
kamu mau mengajakku berbicara?”, akhirnya aku mengeluarkan suara.
“Memangnya
kenapa?”, tanyanya balik. “.. dan kenalkan namaku Senja”.
Aku
berkenalan dengan Senja disaat senja. Cukup menarik.
“Tapi
aku tidak bertanya namamu”, ucapku.
“Dan
aku hanya ingin memberitahukan namaku”.
“Baiklah
Senja. Jadi, apa maumu?”.
“Aku
hanya ingin tahu apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Bukankah
kita hanya orang asing? Mengapa aku harus menceritakan sesuatu kepadamu?”
“Jika
begitu, anggaplah aku hanya sebagai orang tanpa embel-embel asingnya”, katanya
tegas. Baiklah kuakui ia tampak bisa dipercaya. Tapi, siapa yang tahu?
“Ok”.
Hanya itu yang kuucapkan sebelum sepuluh menit kemudian perlahan menjadi
keheningan yang ajaibnya tanpa rasa canggung.
“Aku
bingung”, ucapku.
“Tampak
dari wajahmu”.
“Aku
tidak tahu kamu akan menyukai pembahasan ini atau tidak. Tapi, apa arti bangga
menurutmu?”
“Bangga?
Aku bangga ketika aku bisa melakukan sesuatu yang berharga. Jadi menurutku,
bangga adalah ketika sesuatu terlihat sangat berharga dan pantas
diapresiasikan. Sekiranya begitu”.
“Aku
setuju. Tapi masih belum menjawab semua kebingunganku”.
“Kalau
begitu, ceritakan semua kebingunganmu. Aku siap mendengarkan”, ucap Senja
sambil tersenyum. Kalian tahu apa? Senyumnya itu menular, hingga aku pun
tersenyum.
“Apakah
aku harus bangga menjadi orang Indonesia?”, tanyaku.
“Apakah
ada alasan yang menjadikanmu tidak bangga dengan Indonesia?”, tanyanya balik.
Satu hal yang dapat kusimpulkan, Senja suka bertanya balik.
“Tentunya
ada. Aku merasa kosong saat membahas kebanggaan akan bangsa ini. Aku merasa
semua masalah pada negeri ini adalah penyebabnya”.
“Kau
tahu apa? Masalah tidak akan lahir tanpa penyebabnya. Maka sekarang aku akan
bertanya, siapa yang menciptakan permasalahan di negeri ini?”.
“Orang-orangnya.
Manusia-manusianya”, jawabku.
“Iya.
Kekacauan disebabkan oleh manusia itu sendiri. Tapi jangan lupakan bagaiman
kisah-kisah perjuangan pahlawan terdahulu dalam meraih kemerdekaan. Belum lagi,
anak-anak emas bangsa yang menorehkan prestasinya hingga ke kancah
Internasional”.
“Aku
tidak tahu harus menjawab apa”.
“Baiklah
biarkan aku bertanya dan tugasmu hanya menjawab. Pertanyaan pertama, apa yang
kamu perlukan untuk sebuah kebanggaan?”
“Sesuatu
yang luar biasa mungkin?”
“Apakah
dirimu luar biasa?”
“Sepertinya
tidak”, ucapku ragu-ragu. Memangnya apa yang hebat dari diri ini.
“Berarti
kamu tidak bangga dengan dirimu sendiri?”
“Bukan
begitu. Aku hanya tidak tahu apa yang patut dibanggakan akan diriku sendiri”.
“Bagaimana
kamu dapat bangga dengan bangsa yang besar ini, jika kamu tidak bangga dengan
dirimu sendiri?”, ucapannya itu sangat menohok.
“Apakah
itu pertanyaan yang kedua?”, ia mengangguk. “Jawabannya adalah aku tidak tahu”.
“Begini,
siapapun kamu, kamu harus mencintai dirimu sendiri. Itu hal terpenting. Dengan
mencintai diri sendiri maka kamu akan bangga terhadap dirimu sendiri. Bangga
terhadap diri sendiri tidak harus dengan menjadi siswa terpintar di kelas,
gadis yang cantik, atau segala jenis kebanggaan lumrah semata. Tapi kebanggaan
juga tentang bagaimana kamu menerima dirimu sendiri”.
“Aku
menerima diriku apa adanya. Tapi terkadang aku masih merasa minder dan
mengeluh”.
“Jika
begitu, kamu tidak sepenuhnya menerima dirimu sendiri, maka aku maklum jika
kamu belum mendapatkan esensi dari kebanggan menjadi bangsa Indonesia”.
“Mengapa
begitu?”
“Ini
bukan hanya tentang Indonesia. Tapi ini tentang Kamu dan Indonesia. Kita dan
Indonesia”.
“Aku
dan Indonesia?”.
“Iya,
karena kamu harus belajar mencintai dirimu sendiri, baru kamu bisa mencintai bangsa
ini. Dan kamu tahu? Mencintai itu memang buta. Karena seakan-akan kita tidak
dapat melihat keburukan dari hal yang kita cintai. Namun sebenarnya, kita bukan
tak dapat melihat keburukan itu. Tetapi, kita dapat menerima keburukan itu”.
“Dan
hukum itu juga berlaku untuk Indonesia?”
“Cukup
lucu ketika kamu menyimpulkan itu sebagai suatu hukum. Tapi, ya. Walaupun
Indonesia dengan segala masalah politik dan ekonominya yang menyita masyarakat.
Akan tetapi masyarakat yang bangga akan tetap menerima itu. Dalam artian mereka
tidak menjadikannya sebuah masalah yang patut disesali atau didiamkan. Tapi
mereka menjadikan itu sebuah tantangan untuk diri sendiri agar mendapatkan
solusi menyelesaikannya”. Hal kedua yang dapat kusimpulkan, pemikiran Senja sungguh
luar biasa.
“Jadi
aku harus mulai untuk mencari sisi positif Indonesia dan melupakan sisi
buruknya?”.
“Tidak.
Kamu harus mencoba untuk mencintai diri sendiri”.
“Setelah
itu apa yang harus aku lakukan?”
“Mencari
sisi positif dari segala hal dan menerima keburukan hal tersebut, termasuk
Indonesia”.
“Apa
setelah itu aku akan bangga menjadi orang Indonesia?”
“Kita
akan melihatnya nanti”, ucapnya. “Bolehkah aku bertanya siapa namamu?”
“Senja”,
ia tampak seperti terkejut. “Jangan terkejut, namaku Putri Aurellia Senja”.
Ya,
namaku Senja dan aku bertemu Senja lainnya di kala senja.
“Pertemuan
yang unik”, ucapnya sambil tersenyum miring dan melihat langit dengan torehan
senja kala petang.”… dan luar biasa”. Ada satu kesimpulan terakhir, senyum Senja
itu menular.
“Aku
bangga bertemu denganmu Senja”, ucapku. “Aku pun begitu”, ucapnya.
Pada
senja itu. Pertemuan luar biasa berlangsung antara diriku dengan Senja. Tentang
Senja yang memberiku sesuatu yang tak terkira. Sangat berharga. Ia tidak hanya
menjawab kebingunganku, tapi ia membuatku sadar akan keluarbiasaan diriku
sendiri.
Salam
Senja.
Karya: Siti Zahwa Humaira


0 komentar:
Posting Komentar