A School
That Learn, itulah motto Sekolah Sukma Bangsa. Sekolah
yang lahir dari rententan konflik
Aceh, Gempa
dan Tsunami, 26
Desember tahun 2004 silam.
Harapannya, dengna motto tersebut akan lahir magnet poistif bagi setiap orang
yang berda di sekolah utuk terus belajar,
belajar dan belajar. Sama halnya seperti yang pernah kita dengar dari pepatah, “Belajar dari ayunan
sampai liang lahat”. Kata ‘belajar’ tidak akan pernah
putus selama nyawa masih dikandung badan.
Tidak terasa hampir 3 tahun saya sudah
bergabung dengan sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Sekolah yang setiap hari
menuntut saya terus belajar mulai dari pengalaman yang kecil sampai pengalaman
yang besar. Capek, letih, lelah terasa setiap hari. Tetapi semua kelelahan itu terbayar
ketika berjumpa dengan siswa-siswi.
mereka penyemangat, dan karena merekalah saya mendapat kesempatan untuk belajar menjadi guru yang
baik.
Sebagai seorang guru matematika, tentunya memiliki
tantangan yang berat. image
yang berkembang dikala ngan siswa, bahwa
matematika merupakan pelajaran yang susah, bosan dan menakutkan. Siswa saya
merupakan siswa yang terdiri dari
berbagai kemapuan dalam belajar, berbagai tingkah yang mereka bawa, dan
juga berasal dari berbagai latar belakang keluarga.
Tentunya dengan segala perbedaan
ini saya satukan mereka dalam satu ikatan kode etik, satu ikatan budaya sekolah
sampai satu ikatan rule class. Penyampaian aturan kelas ini merupakan
kesepakatan antara saya sebagai guru dan siswa sebagai orang yang mau belajar.
Dengan adanya rule class ini membatasi siswa untuk bermain-main ketika pembelajaran
berlangsung.
Pembelajaran matematika merupakan
pelajaran yang membutuhkan konsentarsi dan terfokus ketika KBM berlangsung. KBM
lebih terarah dan terfokus apabila siswa juga fokus. Banyak siswa yang berpikir
bahwa belajar matematika hanya belajar operasi hitung, aljabar, geometri dan
lain-lainnya, tetapi pada kenyataannya belajar matematika tidak selamanya
belajar tentang angka dan hitung menghitung.
Maka saya sebagai guru matematika
di tingkat SMP mempelajari berbagai teknik dalam mengajar sehingga merubah pandangan
siswa terhadap belajar matematika yang tadinya susah menjadi mudah, yang
tadinya bosan menjadi menyenangkan.
Dalam mengajarkan materi matematika
biasanya saya mengajak siswa untuk bisa memahami konsep, bukan menghafal
materi dan rumus. ketika
KBM berlangsung saya selalu memberikan kesempatan bagi siswa sekitar 10 menit
untuk membaca dan memahami materi belajar.
Dari hasil bacaan siswa tersebut saya mulai memancing keadaan
mengajukan beberapa pertanyaan yang harus siswa berpikir dan menjawab, kemudian
saya lanjutkan mengaitkan materi belajar dengan konsep dalam kehidupan
sehari-hari.
lagi-lagi siswa harus berpikir dan
menjawab beberapa pertanyaan saya, kemudian barulah saya menulis judul materi
belajar di papan tulis, mengapa saya mulai pembelajaran dengan menulis judul
materi, hasil observasi awal saya dalam beberapa tahun ini, mengapa seorang
siswa tidak memahami materi yang diajarkan salah satu faktornya adalah karena
ketidaktahuan siswa dalam memahami konsep materi yang akan dipelajari.
Misalnya belajar tentang Persamaan
Linear Dua Variabel, saya mulai dulu dengan mengajukan pertanyaan dari kata persamaan itu apa, linear itu apa, variabel itu apa, dan mengapa disebutkan dua variabel, Kemudian
saya mendengarkan berbagai jawaban dari siswa apa saja yang mereka tau, apa
saja yang sudah mereka pahami, namun ada kalanya jawaban yang mereka berikan
itu tidak berkenaan tetapi saya tetap mengapresiasi jawaban mereka dengan tepuk
tangan.
Karena siswa tersebut sudah menunjukkan
keberanian. Setelah itu barulah saya menyimpulkan dari sejumlah jawaban siswa
dengan mengambil satu kata kunci dari materi tersebut. Ketika siswa sudah
memahami konsep barulah saya sajikan beberapa contoh tentang persamaan linear
dua variabel baru dilanjutkan dengan teknik menyelesaikan persamaan linear dua
variabel dan aplikasi persamaan linear dua variabel dalam kehidupan
sehari-hari.
Pembelajaran yang dikatakan efektif
apabila siswanya aktif, mau berkomunikasi baik dengan guru maupun dengan teman.
Di dalam komunikasi tersebut maka keributan dalam KBM sudah lazim terjadi bagi
siswa. Bukan tidak jadi masalah bagi saya sebagai pengajar matematika apabila
hal tersebut terjadi ketika saya menjelaskan materi atau ketika siswa mempresentasi
hasil kerja kelompok.
Ketika keributan muncul dalam
pembelajaran maka saya berpendapat bahwa tidak adanya hubungan timbal balik
yang diberikan dari siswa kepada guru, masalah ini bisa terjadi dikarenakan tidak
pahammya materi yang diajarkan atau mudahnya materi untuk pembelajaran dihari
tersebut. Karena lazimnya siswa yang aktif maka ribut pasti akan muncul tetapi
di dalam pembelajaran matematika saya mengontrol keributan siswa dengan banyak
memberikan masalah tentang materi yang sedang dipelajari dan tentunya setiap
siswa harus berpikir dan berpendapat.
Adapun cara lainnya yng saya
terpakan ketika diawal pembelajaran berlangsung pada awal semester saya bersama
siswa sudah menyepakati rule class
yang mengikat siswa selama pembelajaran berlangsung, dimana banyak orang ketika
belajar matematika bukan pelajarannya yang susah tetapi konsentrasinya tidak
dapat, terlebih tipe orang seperti saya apabila belajar butuh ketenangan
sehingga konsentrasinya tidak terpecah dan fokus, begitu juga ada sebagian
siswa di dalam kelas yang tipe belajarnya seperti saya yaitu butuh konsentrasi
dan terfokus.
Rutinitas selama di sekolah adalah
mengajar dan mendidik. Begitu juga ketika KBM sedang berlangsung perlakukan
saya kepada setiap siswa itu sama, saya tipe orang yang melayani setiap siswa,
bagi saya perbedaan dari setiap siswa tentang gaya belajar, daya serap siswa, sampai
komitmen belajar itu dikarenakan bahwa setiap siswa datang dari berbagai latar
belakang yang disatukan dalam satu kesatuan belajar, tentunya secara akademik
setiap siswa memiliki tingkat intelegensi yang berbeda pula pada setiap mata
pelajaran.
Maka dari itu ketika diawal KBM
berlangsung saya lebih banyak memahami kondisi belajar siswa dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang mengikat siswa untuk dijawab, bila dari
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan ada siswa yang kurang memahami dan tidak
memberikan jawaban maka itu langkah awal saya mengkondisikan belajar di hari
tersebut.
Dari rangkaian kegiatan belajar
yang berlangsung , evaluasi adalah tahapan terakhir dari sebuah pembelajaran.
Hasil evaluasi yang diharapkan muncul dari siswa setelah belajar yaitu berubahnya
afektif yang lebih baik, berkembangnya kognitif, dan munculnya psikomotorik
yang kreatif. Namun apabila diajukan pertanyaan apakah dari setiap anak
tercapai ini semua setelah pembelajaran berlangsung…? Tentunya jawaban tidak,
dikarenakan anak merupakan makhluk yang datang ke sekolah dengan berbagai
kekurangan dan kelebihan, dan apakah sekolah hanya dengan nilai kognitif aja bisa langsung
memvonis bahwa siswa ini maupun siswa itu yang masih kurang.
Pendapat saya tentang evaluasi
adalah ketika siswa sudah menyelesaikan pendidikan maka tidak hanya siswa
tersebut harus dinilai dari segi pengetahuannya saja tetapi lebih dilihat dari
segi proses ketika pembelajaran berlangsung, nilai adalah bagian dari evaluasi,
sedangkan evaluasi adalah rangkaian kegiatan yang harus dinilai.
Oleh : M.
Yuzaldi, S.Pd



0 komentar:
Posting Komentar