https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Esai Guru

SUKMA TEMPAT KU BELAJAR DAN TEMPAT KU MENGAJAR




A School That Learn, itulah motto Sekolah Sukma Bangsa. Sekolah yang lahir dari rententan konflik Aceh, Gempa dan Tsunami, 26 Desember tahun 2004 silam. Harapannya, dengna motto tersebut akan lahir magnet poistif bagi setiap orang yang berda di sekolah utuk terus belajar, belajar dan belajar. Sama halnya seperti yang pernah kita dengar dari pepatah, Belajar dari ayunan sampai liang lahat”. Kata belajar tidak akan pernah putus selama nyawa masih dikandung badan.

Tidak terasa hampir 3 tahun saya sudah bergabung dengan sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Sekolah yang setiap hari menuntut saya terus belajar mulai dari pengalaman yang kecil sampai pengalaman yang besar. Capek, letih, lelah terasa setiap hari. Tetapi semua kelelahan itu terbayar ketika berjumpa dengan siswa-siswi. mereka penyemangat, dan karena merekalah saya mendapat kesempatan untuk belajar menjadi guru yang baik.

Sebagai seorang guru matematika, tentunya memiliki tantangan yang berat. image yang berkembang dikala ngan siswa, bahwa matematika merupakan pelajaran yang susah, bosan dan menakutkan. Siswa saya merupakan siswa yang terdiri dari  berbagai kemapuan dalam belajar, berbagai tingkah yang mereka bawa, dan juga berasal dari berbagai latar belakang keluarga.

Tentunya dengan segala perbedaan ini saya satukan mereka dalam satu ikatan kode etik, satu ikatan budaya sekolah sampai satu ikatan rule class. Penyampaian aturan kelas ini merupakan kesepakatan antara saya sebagai guru dan siswa sebagai orang yang mau belajar. Dengan adanya rule class ini membatasi siswa untuk bermain-main ketika pembelajaran berlangsung.

Pembelajaran matematika merupakan pelajaran yang membutuhkan konsentarsi dan terfokus ketika KBM berlangsung. KBM lebih terarah dan terfokus apabila siswa juga fokus. Banyak siswa yang berpikir bahwa belajar matematika hanya belajar operasi hitung, aljabar, geometri dan lain-lainnya, tetapi pada kenyataannya belajar matematika tidak selamanya belajar tentang angka dan hitung menghitung.

Maka saya sebagai guru matematika di tingkat SMP mempelajari berbagai teknik dalam mengajar sehingga merubah pandangan siswa terhadap belajar matematika yang tadinya susah menjadi mudah, yang tadinya bosan menjadi menyenangkan.

Dalam mengajarkan materi matematika biasanya saya mengajak siswa untuk bisa memahami konsep, bukan menghafal materi dan rumus. ketika KBM berlangsung saya selalu memberikan kesempatan bagi siswa sekitar 10 menit untuk membaca dan memahami materi belajar. Dari hasil bacaan siswa tersebut saya mulai memancing keadaan mengajukan beberapa pertanyaan yang harus siswa berpikir dan menjawab, kemudian saya lanjutkan mengaitkan materi belajar dengan konsep dalam kehidupan sehari-hari.

lagi-lagi siswa harus berpikir dan menjawab beberapa pertanyaan saya, kemudian barulah saya menulis judul materi belajar di papan tulis, mengapa saya mulai pembelajaran dengan menulis judul materi, hasil observasi awal saya dalam beberapa tahun ini, mengapa seorang siswa tidak memahami materi yang diajarkan salah satu faktornya adalah karena ketidaktahuan siswa dalam memahami konsep materi yang akan dipelajari.

Misalnya belajar tentang Persamaan Linear Dua Variabel, saya mulai dulu dengan mengajukan pertanyaan dari kata persamaan itu apa, linear itu apa, variabel itu apa, dan mengapa disebutkan dua variabel, Kemudian saya mendengarkan berbagai jawaban dari siswa apa saja yang mereka tau, apa saja yang sudah mereka pahami, namun ada kalanya jawaban yang mereka berikan itu tidak berkenaan tetapi saya tetap mengapresiasi jawaban mereka dengan tepuk tangan.

Karena siswa tersebut sudah menunjukkan keberanian. Setelah itu barulah saya menyimpulkan dari sejumlah jawaban siswa dengan mengambil satu kata kunci dari materi tersebut. Ketika siswa sudah memahami konsep barulah saya sajikan beberapa contoh tentang persamaan linear dua variabel baru dilanjutkan dengan teknik menyelesaikan persamaan linear dua variabel dan aplikasi persamaan linear dua variabel dalam kehidupan sehari-hari.

Pembelajaran yang dikatakan efektif apabila siswanya aktif, mau berkomunikasi baik dengan guru maupun dengan teman. Di dalam komunikasi tersebut maka keributan dalam KBM sudah lazim terjadi bagi siswa. Bukan tidak jadi masalah bagi saya sebagai pengajar matematika apabila hal tersebut terjadi ketika saya menjelaskan materi atau ketika siswa mempresentasi hasil kerja kelompok.

Ketika keributan muncul dalam pembelajaran maka saya berpendapat bahwa tidak adanya hubungan timbal balik yang diberikan dari siswa kepada guru, masalah ini bisa terjadi dikarenakan tidak pahammya materi yang diajarkan atau mudahnya materi untuk pembelajaran dihari tersebut. Karena lazimnya siswa yang aktif maka ribut pasti akan muncul tetapi di dalam pembelajaran matematika saya mengontrol keributan siswa dengan banyak memberikan masalah tentang materi yang sedang dipelajari dan tentunya setiap siswa harus berpikir dan berpendapat.

Adapun cara lainnya yng saya terpakan ketika diawal pembelajaran berlangsung pada awal semester saya bersama siswa sudah menyepakati rule class yang mengikat siswa selama pembelajaran berlangsung, dimana banyak orang ketika belajar matematika bukan pelajarannya yang susah tetapi konsentrasinya tidak dapat, terlebih tipe orang seperti saya apabila belajar butuh ketenangan sehingga konsentrasinya tidak terpecah dan fokus, begitu juga ada sebagian siswa di dalam kelas yang tipe belajarnya seperti saya yaitu butuh konsentrasi dan terfokus.  

Rutinitas selama di sekolah adalah mengajar dan mendidik. Begitu juga ketika KBM sedang berlangsung perlakukan saya kepada setiap siswa itu sama, saya tipe orang yang melayani setiap siswa, bagi saya perbedaan dari setiap siswa tentang gaya belajar, daya serap siswa, sampai komitmen belajar itu dikarenakan bahwa setiap siswa datang dari berbagai latar belakang yang disatukan dalam satu kesatuan belajar, tentunya secara akademik setiap siswa memiliki tingkat intelegensi yang berbeda pula pada setiap mata pelajaran.

Maka dari itu ketika diawal KBM berlangsung saya lebih banyak memahami kondisi belajar siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengikat siswa untuk dijawab, bila dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan ada siswa yang kurang memahami dan tidak memberikan jawaban maka itu langkah awal saya mengkondisikan belajar di hari tersebut.

Dari rangkaian kegiatan belajar yang berlangsung , evaluasi adalah tahapan terakhir dari sebuah pembelajaran. Hasil evaluasi yang diharapkan muncul dari siswa setelah belajar yaitu berubahnya afektif yang lebih baik, berkembangnya kognitif, dan munculnya psikomotorik yang kreatif. Namun apabila diajukan pertanyaan apakah dari setiap anak tercapai ini semua setelah pembelajaran berlangsung…? Tentunya jawaban tidak, dikarenakan anak merupakan makhluk yang datang ke sekolah dengan berbagai kekurangan dan kelebihan, dan apakah sekolah  hanya dengan nilai kognitif aja bisa langsung memvonis bahwa siswa ini maupun siswa itu yang masih kurang.

Pendapat saya tentang evaluasi adalah ketika siswa sudah menyelesaikan pendidikan maka tidak hanya siswa tersebut harus dinilai dari segi pengetahuannya saja tetapi lebih dilihat dari segi proses ketika pembelajaran berlangsung, nilai adalah bagian dari evaluasi, sedangkan evaluasi adalah rangkaian kegiatan yang harus dinilai. 

Oleh : M. Yuzaldi, S.Pd

About Indeks

Situs ini pertama kali diindeks oleh Google pada Januari 2012. Koneksi Anda ke situs ini aman.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.