https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Puisi

Rembulan Menanti - Karya: Geubrina Dara Alisa


Rembulan Menanti
Karya: Geubrina Dara Alisa

Semburat merah muncul dari balik cakrawala
Menghadiahkan senyuman terbaik kepada semesta
Rembulan pun berdesis tanpa suara
Karena ia tau akan ada masanya

Sosok disana masih termenung
Terjebak di lembah kekalutan tak berujung
Terpaku pada kegelisahan nan mencekik jiwa
Mengabaikan pelangi di ujung sana

Hidupnya hampa..
Dimana dunianya?
Sedang singgahkah di tepi jalan?

Entahlah..
Mungkin ia lupa
Setelah mentari pergi, akan ada rembulan yang menanti

* Geubrina Dara Alisa, Alumnus SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe





DEKAP AKU, TUHAN..
Goresan pena : Geubrina Dara Alisa

Angin lembut menyapa kalbu
Menyelusuri ruang tak bertiang
Menapaki kisah di sepertiga malam

Aku bersamanya..
Ia hadir menjadi saksi bisu kegetiran hati ini

Jauh sudah aku melangkah
Tapi semakin kehilangan arah
Fatwa hati berucap lelah
Tak kuasa menahan gundah

Aku tenggelam
Hanyut dalam lautan dosa mendalam
Tapi bahkan.. acap ku rasa bunga kehidupan
Pantaskah Tuhan?

Beralaskan sajadah aku bersimpuh
Terselip rapi rangkaian do’a penuh makna
menggugurkan tetesan-tetesan pelukis jiwa
Menyematkan bukti cinta antara Tuhan dan hamba-Nya

Tuhan, dekap aku dengan cinta-Mu..

KAMI SUDAH BIASA
Goresan pena : Geubrina Dara Alisa

Kau bilang negeri ini amat makmur
Tapi disana, semangat dan cita mereka kian terkubur
Bersaing dengan ribuan tangan kotor bertopeng luhur
Apalah daya..
Mereka kalah dan perlahan mundur

Kau ucap negeri ini sudah sejahtera
Tapi disana, jutaan rakyat masih menderita
Suara mereka menyatu dengan kegilaan dunia
Seperti yang kau tahu..
 gubuk tua tak bernilai jika bersanding dengan istana
Perlahan hilang, terabaikan seiring masa

Lihat, para petinggi semakin berkuasa
Berteduh diatas hak yang mereka damba
Secerca kalimat hadir menusuk jiwa
Sudahlah, tumbuh sengsara tak mengapa
kami sudah biasa katanya...

AKU PENGAGUM-MU
Goresan pena : Geubrina Dara Alisa
Sosok yang disana..
Apa kabarmu?
Masih tegarkah engkau?
Aku masih disini
Memandang keelokan
Mengagumi mu sepanjang zaman..

Pancaran ketulusan itu..
Bersinar terang di setiap sudut raga ini
Menebarkan kehangatan abadi
Menyapa jiwa yang lemah berdiri

Lengkungan manis raut wajah itu..
Lekat dan terikat
Terlukis indah tanpa alat
Menghantam seluruh gumpalan penat

Wanita malaikat titipan Tuhan..
Beritahu aku cara menangis di dalam hujan
Menyelipkan luka di balik senyuman

Wanita terhebat tak tergantikan..
Sematkanku sedikit sinar penerang jalan
Agar aku mampu untuk bertahan
Menghadapi dunia yang terkadang enggan berteman..


About Indeks

Situs ini pertama kali diindeks oleh Google pada Januari 2012. Koneksi Anda ke situs ini aman.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.