Rembulan Menanti
Karya: Geubrina Dara Alisa
Semburat merah muncul dari balik
cakrawala
Menghadiahkan senyuman terbaik
kepada semesta
Rembulan pun berdesis tanpa
suara
Karena ia tau akan ada masanya
Sosok disana masih termenung
Terjebak di lembah kekalutan tak
berujung
Terpaku pada kegelisahan nan
mencekik jiwa
Mengabaikan pelangi di ujung
sana
Hidupnya hampa..
Dimana dunianya?
Sedang singgahkah di tepi jalan?
Entahlah..
Mungkin ia lupa
Setelah mentari pergi, akan ada
rembulan yang menanti
* Geubrina Dara Alisa, Alumnus SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe
DEKAP AKU, TUHAN..
Goresan pena : Geubrina Dara
Alisa
Angin lembut menyapa kalbu
Menyelusuri ruang tak bertiang
Menapaki kisah di sepertiga
malam
Aku bersamanya..
Ia hadir menjadi saksi bisu kegetiran
hati ini
Jauh sudah aku melangkah
Tapi semakin kehilangan arah
Fatwa hati berucap lelah
Tak kuasa menahan gundah
Aku tenggelam
Hanyut dalam lautan dosa
mendalam
Tapi bahkan.. acap ku rasa bunga
kehidupan
Pantaskah Tuhan?
Beralaskan sajadah aku bersimpuh
Terselip rapi rangkaian do’a penuh
makna
menggugurkan tetesan-tetesan pelukis
jiwa
Menyematkan bukti cinta antara
Tuhan dan hamba-Nya
Tuhan, dekap aku dengan
cinta-Mu..
KAMI SUDAH BIASA
Goresan pena : Geubrina Dara
Alisa
Kau bilang negeri ini amat
makmur
Tapi disana, semangat dan cita
mereka kian terkubur
Bersaing dengan ribuan tangan
kotor bertopeng luhur
Apalah daya..
Mereka kalah dan perlahan mundur
Kau ucap negeri ini sudah
sejahtera
Tapi disana, jutaan rakyat masih
menderita
Suara mereka menyatu dengan
kegilaan dunia
Seperti yang kau tahu..
gubuk tua tak bernilai jika bersanding dengan istana
Perlahan hilang, terabaikan
seiring masa
Lihat, para petinggi semakin
berkuasa
Berteduh diatas hak yang mereka
damba
Secerca kalimat hadir menusuk
jiwa
Sudahlah, tumbuh sengsara tak
mengapa
kami sudah biasa katanya...
AKU PENGAGUM-MU
Goresan pena : Geubrina Dara
Alisa
Sosok yang disana..
Apa kabarmu?
Masih tegarkah engkau?
Aku masih disini
Memandang keelokan
Mengagumi mu sepanjang zaman..
Pancaran ketulusan itu..
Bersinar terang di setiap sudut
raga ini
Menebarkan kehangatan abadi
Menyapa jiwa yang lemah berdiri
Lengkungan manis raut wajah
itu..
Lekat dan terikat
Terlukis indah tanpa alat
Menghantam seluruh gumpalan
penat
Wanita malaikat titipan Tuhan..
Beritahu aku cara menangis di
dalam hujan
Menyelipkan luka di balik
senyuman
Wanita terhebat tak
tergantikan..
Sematkanku sedikit sinar
penerang jalan
Agar aku mampu untuk bertahan
Menghadapi dunia yang terkadang
enggan berteman..



0 komentar:
Posting Komentar