Zaman sekarang, teknologi berkembang begitu
pesatnya. Teknologi diciptakan untuk mempermudah urusan manusia dan mempermudah
segala sesuatunya. Berbagai macam jenis teknologi yang tidak terhitung
jumlahnya dapat kita jumpai di zaman modern ini mulai dari smartphone, laptop, dan sebagainya.
Namun, walaupun pada awalnya teknologi
diciptakan untuk menghasilkan dampak positif, di sisi lain teknologi juga
memberikan dampak negatif. Contohnya, seperti smartphone. Dalam kasus maraknya penggunaan smartphone di kalangan siswa/i SD, timbul dampak
negatif yang diakibatkan oleh penggunaan smartphone
di kalangan SD. Dampak negatif yang ditimbulkan
seperti, menjadikan kecanduan terhadap anak-anak di bawah umur, tingkat keinginan belajar menurun
saat di sekolah maupun di rumah dan anak-anak akan malas bergerak.
Bahkan banyak orang tua yang memberikan smartphone secara bebas tanpa pengawasan
kepada anak mereka yang masih balita tanpa menyadari bahaya yang mengancam
kehidupan anak-anak mereka di masa depan. Banyak sekali dampak buruk smartphone bagi anak balita, namun
orang tua zaman sekarang meskipun sudah tahu tetapi mungkin
karena rasa sayang pada anaknya tetap saja meminjamkan atau bahkan memberikan smartphone maupun tablet khusus pada mereka yang masih
balita.
Darurat Smartphone di Negeri Sendiri
Di Indonesia, banyak sekali siswa/i yang masih
SD yang berkisar umur 7-12 tahun dibebaskan untuk memainkan berbagai jenis smartphone. Padahal anak anak di bawah umur belum begitu penting untuk memiliki
atau menggunakan smartphone untuk
membantu pekerjaan sehari harinya. Lain halnya remaja atau orang dewasa yang
lebih membutuhkan smartphone sebagai
media untuk mencari informasi maupun memberikan informasi.
Alasannya yang paling umum yang sering
dijumpai adalah untuk membuat anak dapat duduk tenang dan tidak mengganggu
kegiatan orang tua. Alasan lain adalah untuk membahagiakan anak dengan
memberikan dia hadiah gawai tersebut pada saat ulang tahunnya, yaitu dengan
mengisi gawai tersebut dengan berbagai macam
game, video dan aplikasi pembelajaran.
Smartphone/ponsel cerdas
dapat dibedakan dengan telepon genggam biasa dengan dua cara fundamental, yakni
bagaimana mereka dibuat dan apa yang mereka dapat lakukan (David Wood,
Wakil Presiden Eksekutif PT Symbian OS)
Smartphone adalah telepon selular dengan mikroprosesor, memori, layar dan modem
bawaan. Smartphone merupakan ponsel
multimedia yang menggabungkan fungsionalitas PC dan handset sehingga menghasilkan gawai yang mewah, di mana terdapat
pesan teks, kamera, pemutar musik, video,
game, akses email, tv digital, searchengine, pengelola informasi
pribadi, fitur GPS, jasa telepon internet dan bahkan terdapat telepon yang juga
berfungsi sebagai kartu kredit (Williams & Sawyer (2011)).
Smartphone didefinisikan sebagai perangkat
ponsel yang memiliki fitur-fitur yang melebihi ponsel pada umumnya, hal ini
ditandai dengan keberadaan fitur tambahan selain komunikasi, seperti PIM,
dukungan penambahan aplikasi, serta memiliki sistem operasi yang mendukung berbagai
fitur multimedia dan kebutuhan bisnis (Ridi Ferdiana, ST, MT (2008) ).
Dampak Buruk Smartphone
Dampak buruk smartphone yang pertama adalah sudah menjadi kebiasaan seorang anak
untuk terus bergerak, lari-larian, melompat, menari dan bermain untuk membatu
pertumbuhan fisik yang sehat dan juga kuat. Namun, anak-anak sekarang terlalu nyaman bermain
gawai yang sudah pasti hanya duduk diam dan ini
tentu memiliki dampak buruk bagi anak. Jika hal tersebut terlalu sering
terjadi, maka dapat saja anak jadi obesitas. Cara
mengatasi masalah tersebut adalah dengan tidak memberikan gawai atau smartphone
kepada si anak, dan memperkenalkan permainan zaman dahulu yang tidak kalah
menarik dan menyenangkan.
Yang kedua adalah terlalu lama bermain smartphone dapat menyebabkan sakit pada
beberapa bagian tubuh, seperti pada bahu, leher, punggung, tangan dan jari, hal
ini disebabkan karena bermain smartphone
terlalu lama dengan posisi yang sama atau tidak berubah-ubah, cara
menghilangkan sakit tersebut dengan bergerak.
Belakangan ini, penggunaan gawai tidak saja menjadi dominasi orang
dewasa. Smartphone, tablet, notebook dan
aneka gawai lainnya
juga sudah jamak digunakan anak-anak kita. Fenomena ini paling mudah kita temui
pada anak yang berasal dari keluarga berada di mana gawai bukan lagi menjadi barang mewah
bagi mereka. Sebagian lagi anak memang difasilitasi oleh orang tuanya untuk
sibuk ber-gawai ria agar
orang tua lebih leluasa beraktivitas tanpa perlu terus-terusan mendampingi
anaknya. Ada juga orang tua yang mungkin bermaksud mengenalkan teknologi gawai itu sejak dini kepada
anak-anaknya.
Anak-anak yang sedang berada dalam masa serba
ingin tahu juga akan senang jika dihadiahkan gawai oleh orang tuanya. Apalagi dengan perkembangan
teknologi informasi, anak-anak sekarang ini rasanya jauh lebih “sadar
teknologi” dibanding generasi-generasi di belakangnya. Saya perhatikan
anak-anak sekarang dapat dengan mudah mengakses aplikasi dalam gawai yang baru didapatinya.
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menguasai fitur-fitur gawai tersebut.
Memang di satu sisi, ada beberapa manfaat bagi
anak yang sejak dini sudah berkenalan dengan gawai. Paling tidak sejak awal anak sudah familiar dengan
teknologi. Kemudian beberapa vendor sudah membuat aplikasi game khusus
untuk mengasah daya pikir anak Seperti: puzzle, game kata,
dan game sejenis. Anak-anak yang senang bermain gawai juga akan betah di rumah,
ini adalah keuntungan buat orang tua yang sibuk. Jika anak berada di rumah,
orang tua akan lebih leluasa melakukan kegiatannya. Beberapa orang tua juga
membelikan anak-anaknya handphone, agar mudah memonitor keberadaan
anak mereka. Di daerah-daerah yang rawan terjadi penculikan anak, membiasakan
anak untuk berkomunikasi dengan HP akan cukup membantu orang tua mengawasi anak-anaknya.
Tetapi di sisi lain, pemakaian gawai sejak
usia dini juga dapat membawa dampak negatif psikis bagi anak-anak, baik bahaya
yang langsung kelihatan maupun bahaya yang dampaknya jangka panjang.
Bahaya gawai terhadap
psikis anak-anak:
Risiko radiasi
elektromagnetik,berbeda dengan
orang dewasa, tubuh anak-anak terutama anak yang berusia di bawah lima tahun
sangat sensitif terhadap risiko bahaya dari lingkungannya. Kemampuan psikomotorik berkurang,menghabiskan
waktu dengan gawai membuat
kemampuan anak yang lain kurang berkembang, salah satunya adalah kemampuan
psikomotorik anak. Padahal semestinya usia anak-anak adalah usia untuk
mengeksplor seluruh bakat psikomotorik yang dimilikinya, seperti menggambar,
bernyanyi, bermain bersama rekan sebaya dan kegiatan lainnya. Saat melakukan
aktivitas fisik seperti ini, sejumlah kemampuan lain juga akan diasah
sekaligus. Seperti saat menggambar, anak juga belajar mengembangkan otak
kanannya. Saat bermain bersama rekan sebaya, anak akan belajar mengasah keterampilan
sosialnya.
Kesulitan
beradaptasi dengan materi pelajaran,
Aplikasi-aplikasi dan sistem operasi pada gawai menyajikan interaksi multimedia yang memikat.
Permainan warna, animasi ditambah suara membuat anak betah berlama-lama di
depan layar gawai. Pada saat masa sekolah tiba, anak yang terbiasa berinteraksi
dengan gawai akan
menemui kesulitan untuk menyerap materi pelajaran sekolah yang cenderung
statis. Teks hitam putih, tanpa animasi, tanpa suara. Apalagi berhadapan dengan
guru yang kurang lihai mengemas mata pelajaran menjadi menarik. Ini dapat
menurunkan minat belajar anak.
Kecanduan,walau bahaya kecanduan lebih sering terjadi
pada pengguna gawai yang
usianya lebih dewasa, orang tua juga mesti tetap berhati-hati terhadap risiko
kecanduan gawai pada
anak-anak. Tanpa pengawasan dari orang tua, ada kemungkinan anak dapat
menjadi gadget-holic alias kecanduan gawai, untuk mengatasi kecanduan
tersebut, peran orang tua adalah untuk melarang anak bermain gawai terlalu lama
atau dengan tidak membelikan atau memperkenalkan smartphone sebelum pada si
anak membutuhkannya.
Padahal
untuk anak umur 7-12 tahun, hal ini sangat tidak baik karena mereka belum dapat
memilih mana yang baik dan mana yang buruk dari konten yang ada dalam smartphone tersebut. Dampak lainnya
yaitu, anak-anak jadi malas bergerak. Setiap menggunakan atau memainkan smartphone,anak-anak jadi malas
bergerak,setiap menggunakan smartphone,anak-anak
maupun orang dewasa akan diam ditempat atau tidak bergerak. Pada anak-anak, hal
ini akan mengakibatkan kebiasaan anak menjadi malas bergerak apalagi ketika
diperintahkan oleh orang tuannya, lain halnya dengan orang dewasa, mereka masih
dapat mengontrol dan tidak kecanduan smartphone
seperti anak-anak.malas begerak pada anak dibawah umur sebenarnya sangat berbahaya,
karena hal tersebut akan berpengaruh terhadap
pengembangan diri anak. Anak-anak akan sulit berkembang jika sejak kecil
sudah memiliki malas bergerak
Saran
penulis agar orang tua lebih mengawasi dalam penggunaan smartphone anak, walaupun kadang mereka memerlukan gawai
untuk membuat pekerjaan sekolah yang berhubungan dengan internet tetapi sianak dapat
meminjam gawai kakaknya atau orang tuanya, agar tidak menjadi kecanduan dan
sebagainya yang berdampak negatif kepada anak-anak dibawah umur yang masih
belum dapat mengontrol emosi, dan saran penulis kepada DPR adalah
membuat undang-undang tentang pembelian smartphone
untuk anak di bawah umur dan undang-undang tentang banyaknya
smartphone asing yang memasuki negara
Indonesia, yang menyebabkan impor diIndonesia
meningkat setiap tahun, saya harap anggota DPR mengabulkan permintaan penulis
demi Indonesia yang lebih baik.
Penulis berikan gambaran jika anggota DPR mengabulkan
permintaan penulis, generasi bangsa Indonesia tidak akan kecanduan gawai atau dampak
negatif seperti saat ini. Contoh sekarang ini game Mobile
Legend sangat populer, dari orang dewasa
sampai anak SD bahkan sekarang perempuan juga sudah memainkan game tersebut, yang biasanya perempuan
itu tidak suka bermain game, tetapi
sekarang laki-laki perempuan tidak lagi ada batasan, bahkan mereka rela dari
pagi hingga malam di wifi hanya untuk
memainkan game tersebut, bayangkan
saja berapa lama waktu yang dia buang-buang hanya untuk hal yang tidak
bermanfaat, jika pihak anggota DPR membuat undang-undang tersebut setidaknya
mengurangi anak-anak kecanduan gawai.
Oleh: Bunayya Ilhamullah


0 komentar:
Posting Komentar