Azan shubuh berkumandang
membangunkan manusia dalam kelelapan tidurnya, menunaikan tugas yang wajib
dilaksanakan. Kembali dengan rutinitas sehari-hari menjadi guru untuk muridku. Guru
adalah pilihan hidupku, walaupun banyak orang yang memandang sebelah mata
profesi guru, katanya guru itu miskin, penghasilannnya pas-pasan, tapi
entahlah, saya yakin dan nyaman dengan pilihan hati saya, saya merasa inilah
dunia saya.
Mengawali pagi yang indah
nan cerah ini, kaki mulai melangkah meninggalkan salah satu kewajiban seorang
ibu untuk buah hati tercinta, menapaki jalan yang jauh untuk menjumpai ratusan
siswa yang menanti kedatangan kami para bapak ibu guru.
Siswa adalah salah satu
penyemangat dalam hidup bagi kami yang menggeluti dunia pendidikan, begitu juga
dengan saya yang sudah memilih jalan
hidup menjadi seorang guru. Bermacam tingkah polah siswa saya temukan ketika
saya menjadi guru, kadang-kadang membuat hati senang dan tidak jarang juga ada
siswa yang bersikap kurang wajar untuk seorang siswa, sehingga membuat kami
kecewa dan sedih dengan sikapnya, namun itulah dunia anak-anak, tidak selamanya
mereka mengikuti aturan yang sudah disepakati bersama, namun adakalanya mereka
melanggar aturan tersebut.
Walaupun demikian, ada
kerinduan tersendiri yang muncul ketika
saya tidak bisa berjumpa dengan mereka, baik libur maupun saya berhalangan
hadir ke sekolah beberapa hari, bertemu mereka merupakan pengobat kerinduan
saya setiap hari, walaupun harus meninggalkan anak tercinta di rumah, kalau
ditanya tentang perasaan meninggakan anak, sedih atau tidak, jujur pastinya
yang namanya seorang ibu, pasti sedih ketika harus meninggalkan anak bersama
neneknya di rumah, melewati masa-masa keemasan pertumbuhan anak, jauh dengan lokasi
tempat bekerja, namun inilah hidup, pasti ada yang harus dikorbankan, dan lagi-lagi, ini adalah
pilihan yang harus saya jalani.
Setiap minggunya saya
memiliki kesempatan bertemu dengan siswa dalam kegiatan belajar mengajar selama
dua kali pertemuan dengan frekuensi 3 jam pelajaran.
Bermacam kondisi pernah
saya temukan, selama menjadi guru, ada sambutan yang hangat dan ada juga yang
sebaliknya, dan pernah juga satu kesempatan di awal-awal masa menjadi guru,
saya menemukan kondisi kelas yang sangat tidak kondusif, siswa ribut di kelas,
dan sibuk sendiri, padahal pada kesempatan itu, saya sudah berada di dalam
kelas selama 5 menit, sayapun diam saja tanpa menegur mereka, saya ingin
melihat sejauh mana mereka respect dengan gurunya, 5 menit berlalu, di dalam
hati rasanya sudah mulai kesal, namun saya berusaha tidak meluapkannya di depan
siswa.
Satu kalimat yang keluar
dari mulut saya saat itu, saya memulainya dengan bismillah dalam hati dengan
harapan Allah selalu memberikan kesabaran kepada saya untuk tidak marah-marah
di kelas, kalimatnya yaitu “ini kelas apa pasar ya?” mendengar pertanyaan
tersebut siswa yang tadinya ribut mulai berkumpul dan duduk di kursi mereka
masing-masing, dan kelaspun tenang, saya mulai melaksanakan KBM saat itu,
dengan menyapa dan sedikit nasihat untuk anak-anak, supaya hal tersebut tidak
terulang kembali.
Selanjutnya waktu berlalu
dengan cepatnya, kelas berjalan dengan aman, namun ketika KBM berlangsung ada
juga beberapa siswa yang mengulang hal yang sama, maka sikap yang saya tempuh
yaitu mengingatkan dan kadang-kadang hanya diam memperhatikan tingkah mereka,
ketika ada beberapa anak yang melihat saya diam, anak tersebut yang menegur
teman-temannya yang lain supaya tidak ribut dan kembali dengan KBM yang sedang
berlangsung, begitulah siswa, rasanya tidak pernah bosan-bosannya seorang guru
menasehati siswanya supaya menjadi anak yang baik akhlaknya serta memiliki ilmu
yang bermanfaat bagi mereka.
Tidak terasa sudah 6 tahun
saya menggeluti profesi ini, ada rasa bangga dalam diri ketika melihat beberapa
alumni yang sudah berhasil dan sukses di luar sana, walaupun hal tersebut
mereka capai bukan sepenuhnya dari guru, namun rasa bangga pernah menjadi
bagian dari hidup mereka dan mengisi masa-masa sekolah yang pernah mereka tempuh.
Komunikai terus terjalin baik melalui telepon maupun medsos. Rasa rindu
kadang-kadang menyapa ketika sesekali mereka mengingatkan dan mengirimkan pesan
singkat ucapan selamat hari guru dan ucapan terimakasih karena sudah menjadi
guru mereka selama ini. Rasa kaget sekaligus terharu ketika ada beberapa alumni
yang bertahun-tahun tidak berjumpa namun tiba-tiba mengirimkan pesan singkat
selamat ulang tahun untuk saya. Hal-hal seperti ini mungkin tidak bisa didapat
ketika kita menggeluti profesi yang lain.
Ketika bertahun-tahun
tidak berjumpa, dan suatu waktu alumni datang ke sekolah mencari gurunya sambil
mengingatkan masa-masa berada di kelas dulu, masa-masa mendapatkan punishment
karena terlambat, ribut di kelas, disita hanphone, dan melanggar aturan sekolah
lainnya, bahagia rasanya mereka masih mengingat hal tersebut, walaupun yang
sering mereka ingat adalah hal-hal yang kurang baik, namun setidaknya hal
tersebut menjadi pengalaman yang berharga dan tidak mereka ulangi di jenjang
pendidikan selanjutnya.
Waktu terus berlalu,
setiap tahun ratusan siswa menjadi alumni dari sekolah kami, meninggalkan
jutaan kenangan untuk kami para guru, yang sampai hari ini masih berprofesi
yang sama di sekolah yang sama dan dalam waktu yang tidak pernah bergeser,
tanggung jawab besar kami emban, setiap hari menjadi rutinitas yang selalu kami
jalani dengan ikhlas, dengan harapan suatu saat nanti dengan profesi ini akan
membantu kami terus memupuk kesabaran dan selalu iklas menjalaninya, harapan
besar di akhirat nanti akan ada salah satu siswa kami yang akan menolong kami
di akhirat nanti.
Begitu juga sebaliknya,
tidak ada yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi di kehidupan
selanjutnya, inilah profesi guru yang
sudah menjadi pilihan hati, semoga selalu menjadi ladang amal dan berkah untuk
kami para guru sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Amiiiiiin. Teruslah semangat
wahai para guru, masa depan bangsa ada ditangan para guru, jadilah guru terbaik
untuk anak didik kita.
Oleh: Sri Yenda


0 komentar:
Posting Komentar