
lihatlah-dunia-dengan-mata-hatiBagiku,
siang dan malam itu sama saja. Sama-sama gelap. Aku sering mendengar cerita
orang-orang tentang indahnya malam atau tentang pagi yang begitu lembut.
Katanya, malam itu penuh dengan bintang, penuh dengan kerlap-kerlip. Sedangkan
pagi penuh dengan kekuatan. Di pagi hari tersimpan seribu satu semangat. Ada
embun yang menyapa dedaunan, ada fajar terbentang di kaki langit sebelah timur.
Semuanya begitu indah.
Tapi bagiku,
sekali lagi, semua itu sama saja. Sama-sama gelap. Aku tidak pernah bisa
melihat bagaimana gemerlapnya malam dengan bintangnya atau lembutnya pagi
dengan fajarnya.
“Aih, sudahlah.
Aku tidak akan pernah melihat itu,” batinku mendesak, tapi cepat-cepat
kurangkul agar tidak meronta. Sekarang aku hanya ingin melihat rupa Mak dan
Ayah. Sekalipun aku hanya bisa melihat rupa mereka dengan mata hatiku, bukan
dengan kedua bola mataku.
Mungkin wajah
Mak seperti Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW. Tapi, aku tidak pernah bertemu
Aisyah. Suka saja aku memisalkan wajah Mak dengan Aisyah. Teringat kata Teungku
Mahdi malam itu di pengajian, “Bersabarlah kalian seperti Aisyah…,” Aku
tersenyum sendiri. Sepertinya hayalanku tidak jauh meleset.
Dan Ayah,
seperti apa rupa Ayahku itu? Setelah berhayal lama, aku masih belum bisa
membayangkan seperti siapa sosok yang cocok untuk rupa Ayahku. Aku berhayal
lagi, lagi, dan lagi. Semakin aku berhayal, wajah yang paling tepat semakin
mengambang. Kembali kuingat kisah-kisah yang pernah diceritakan Teungku Mahdi. Seperti
kisah Bilal bin Rabah; laki-laki hitam pekat, beristrikan wanita yang sangat
menawan, memiliki suara yang sangat syahdu, dan menjabat sebagai muazin di
masjid. Suaranya dapat meluluhkan hati siapa pun yang mendengar. Kata Teungku
Mahdi lagi, suara Bilal bin Rabah dapat memecah langit. Lalu langit terbelah,
dan membiarkan Malaikat turun ke Bumi untuk mendoakannya. Pun seluruh isi dunia
akan mengamininya. Termasuk selembar daun kering yang sudah terkulai di kaki
pohon.
Aku kembali
tersenyum, mungkin rupa Ayahku sama seperti Bilal bin Rabah. Lalu akhirnya aku
menertawakan diri sendiri. Seumur-umur aku belum pernah bertemu dengan Bilal
bin Rabah, apalagi melihat wajahnya dengan kedua bola mataku. Melihat seseorang dengan mata hatiku
berdasarkan pada cerita-cerita yang kudengar adalah satu-satunya cara bagiku
mengenal seseorang. Lalu kucocokkan kepribadian mereka dengan kepribadian kedua
orang tuaku. Entah, rupa yang ada dalam hayalanku sama dengan rupa yang
sebenarnya. Rupa wajahku sendiri aku tidak pernah melihatnya, apalagi rupa
orang lain, rupa wajah Aisyah, rupa Bilal bin Rabah. Tapi aku sangat
senang menggunakan mata hatiku.
***
Sudah rutin di
kampungku, setiap menjelang Magrib, di balik toa meunasah terdengar lantunan
aya-ayat Allah. Aku merinding dan menangis tersedu-sedu betapa rindunya aku
ingin melihat rupa laki-laki pelantun ayat Allah itu. Lantunan itu terus
mendesah, mengalun-alun, menampar-nampar rinduku yang semakin memuncak, tapi
rindu itu hanya bisa terjawab oleh air mata yang terus membasahi kedua pipiku.
Mungkin sampai kering sekali pun air mata ini, aku tetap tidak bisa melihat
rupa laki-laki pelantun ayat Allah itu, laki-laki yang selalu kupanggil Ayah.
“Dunia ini
sandiwara, nak!” kata Mak merelai tangisanku di sore itu. “Siapa yang bersandiwara?”
tanyaku pada Mak “Kita.”
“Kenapa
bersandiwara?” “Karena kehidupan yang sebenarnya di akhirat nanti” ucap Mak.
“Dan sekarang, bukan kehidupan?” tanpa menunggu jawaban Mak aku kembali
bertanya. “Tapi apa?”
“Tapi apa Mak?”
tanyaku semakin keras sambil meraba kedua bahunya. Mak mengelus-elus kedua
dadaku, membelai kedua pipiku, lalu mendekapkan di dadanya. Seakan Mak
merasakan perlawananku pada Tuhan. Dengan sangat lembut Mak menjawab
pertanyaanku, “Hidup ini sebentar saja. Saaaaaangat sebentar. Seperti
sandiwara. Sandiwara itu pasti ada ujungnya dan akan berakhir. Sedang di
akhirat nanti kekal abadi. Tidak ada lagi kehidupan setelah akhirat”. Mak
mengeluarkan petuahnya dengan sangat teratur. Satu demi satu kata. Satu demi
satu tarikan nafas.
Setelah lama
terdiam, Mak melanjutkan, “Dan tugas kita sekarang adalah melakukan apa pun
dengan penuh keikhlasan. Tidak ada satu amal pun akan diterima Allah jika kita
melakukannya tidak ikhlas. Termasuk ikhlas menerima apa pun pemberiannya.”
Ingin sekali aku
menangis dengan sangat keras, meronta-ronta, agar semua air mata yang kumiliki
tumpah sampai habis, tak tersisa setetes sekalipun. Hingga nantinya aku tidak
akan memiliki air mata lagi. Air mata yang selalu membuatku lemah. Air mata
yang telah menenggelamkan mimpiku-mimpiku.
* Zubir, peraih
naskah terbaik pada Lomba Menulis Cerpen Guru se-Aceh, 2012
Karya: Zubir


0 komentar:
Posting Komentar