https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Cerpen

Mata hati


 Hasil gambar untuk Mata hati
lihatlah-dunia-dengan-mata-hatiBagiku, siang dan malam itu sama saja. Sama-sama gelap. Aku sering mendengar cerita orang-orang tentang indahnya malam atau tentang pagi yang begitu lembut. Katanya, malam itu penuh dengan bintang, penuh dengan kerlap-kerlip. Sedangkan pagi penuh dengan kekuatan. Di pagi hari tersimpan seribu satu semangat. Ada embun yang menyapa dedaunan, ada fajar terbentang di kaki langit sebelah timur. Semuanya begitu indah.
Tapi bagiku, sekali lagi, semua itu sama saja. Sama-sama gelap. Aku tidak pernah bisa melihat bagaimana gemerlapnya malam dengan bintangnya atau lembutnya pagi dengan fajarnya.
“Aih, sudahlah. Aku tidak akan pernah melihat itu,” batinku mendesak, tapi cepat-cepat kurangkul agar tidak meronta. Sekarang aku hanya ingin melihat rupa Mak dan Ayah. Sekalipun aku hanya bisa melihat rupa mereka dengan mata hatiku, bukan dengan kedua bola mataku.
Mungkin wajah Mak seperti Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW. Tapi, aku tidak pernah bertemu Aisyah. Suka saja aku memisalkan wajah Mak dengan Aisyah. Teringat kata Teungku Mahdi malam itu di pengajian, “Bersabarlah kalian seperti Aisyah…,” Aku tersenyum sendiri. Sepertinya hayalanku tidak jauh meleset.
Dan Ayah, seperti apa rupa Ayahku itu? Setelah berhayal lama, aku masih belum bisa membayangkan seperti siapa sosok yang cocok untuk rupa Ayahku. Aku berhayal lagi, lagi, dan lagi. Semakin aku berhayal, wajah yang paling tepat semakin mengambang. Kembali kuingat kisah-kisah yang pernah diceritakan Teungku Mahdi. Seperti kisah Bilal bin Rabah; laki-laki hitam pekat, beristrikan wanita yang sangat menawan, memiliki suara yang sangat syahdu, dan menjabat sebagai muazin di masjid. Suaranya dapat meluluhkan hati siapa pun yang mendengar. Kata Teungku Mahdi lagi, suara Bilal bin Rabah dapat memecah langit. Lalu langit terbelah, dan membiarkan Malaikat turun ke Bumi untuk mendoakannya. Pun seluruh isi dunia akan mengamininya. Termasuk selembar daun kering yang sudah terkulai di kaki pohon.
Aku kembali tersenyum, mungkin rupa Ayahku sama seperti Bilal bin Rabah. Lalu akhirnya aku menertawakan diri sendiri. Seumur-umur aku belum pernah bertemu dengan Bilal bin Rabah, apalagi melihat wajahnya dengan kedua bola mataku.  Melihat seseorang dengan mata hatiku berdasarkan pada cerita-cerita yang kudengar adalah satu-satunya cara bagiku mengenal seseorang. Lalu kucocokkan kepribadian mereka dengan kepribadian kedua orang tuaku. Entah, rupa yang ada dalam hayalanku sama dengan rupa yang sebenarnya. Rupa wajahku sendiri aku tidak pernah melihatnya, apalagi rupa orang lain, rupa wajah Aisyah, rupa Bilal bin Rabah. Tapi aku sangat senang   menggunakan mata hatiku.
***
Sudah rutin di kampungku, setiap menjelang Magrib, di balik toa meunasah terdengar lantunan aya-ayat Allah. Aku merinding dan menangis tersedu-sedu betapa rindunya aku ingin melihat rupa laki-laki pelantun ayat Allah itu. Lantunan itu terus mendesah, mengalun-alun, menampar-nampar rinduku yang semakin memuncak, tapi rindu itu hanya bisa terjawab oleh air mata yang terus membasahi kedua pipiku. Mungkin sampai kering sekali pun air mata ini, aku tetap tidak bisa melihat rupa laki-laki pelantun ayat Allah itu, laki-laki yang selalu kupanggil Ayah.
“Dunia ini sandiwara, nak!” kata Mak merelai tangisanku di sore itu. “Siapa yang bersandiwara?” tanyaku pada Mak “Kita.”
“Kenapa bersandiwara?” “Karena kehidupan yang sebenarnya di akhirat nanti” ucap Mak. “Dan sekarang, bukan kehidupan?” tanpa menunggu jawaban Mak aku kembali bertanya. “Tapi apa?”
“Tapi apa Mak?” tanyaku semakin keras sambil meraba kedua bahunya. Mak mengelus-elus kedua dadaku, membelai kedua pipiku, lalu mendekapkan di dadanya. Seakan Mak merasakan perlawananku pada Tuhan. Dengan sangat lembut Mak menjawab pertanyaanku, “Hidup ini sebentar saja. Saaaaaangat sebentar. Seperti sandiwara. Sandiwara itu pasti ada ujungnya dan akan berakhir. Sedang di akhirat nanti kekal abadi. Tidak ada lagi kehidupan setelah akhirat”. Mak mengeluarkan petuahnya dengan sangat teratur. Satu demi satu kata. Satu demi satu tarikan nafas.
Setelah lama terdiam, Mak melanjutkan, “Dan tugas kita sekarang adalah melakukan apa pun dengan penuh keikhlasan. Tidak ada satu amal pun akan diterima Allah jika kita melakukannya tidak ikhlas. Termasuk ikhlas menerima apa pun pemberiannya.”
Ingin sekali aku menangis dengan sangat keras, meronta-ronta, agar semua air mata yang kumiliki tumpah sampai habis, tak tersisa setetes sekalipun. Hingga nantinya aku tidak akan memiliki air mata lagi. Air mata yang selalu membuatku lemah. Air mata yang telah menenggelamkan mimpiku-mimpiku.
* Zubir, peraih naskah terbaik pada Lomba Menulis Cerpen Guru se-Aceh, 2012
Karya: Zubir

About Indeks

Situs ini pertama kali diindeks oleh Google pada Januari 2012. Koneksi Anda ke situs ini aman.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.