Untuk menjadi guru tidak mudah,
dibutuhkan banyak kesabaran dalam menghadapi setiap tingkah laku peserta didik.
Mungkin bagi sebagian orang yang berprofesi sebagai guru adalah lulusan FKIP
(Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) yang sudah mendapat pengetahuan khusus
dalam dunia pendidikan.
Namun hal tersebut tidak berlaku untuk
saya. Saya yang berlatarbelakang FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
yang dimana dalam ilmu perkuliahannya tidak mengajarkan bagaimana menjadi
seorang guru, bagaimana menjadi seorang pendidik yang baik untuk peserta
didiknya, sehinggga membuat saya berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi
guru.
Di awal cerita saya menjadi seorang
guru, saya mengalami banyak tantangan dan rintangan yang harus saya hadapi,
mulai dari melatih kesabaran, menahan ego, berbahasa yang sopan, bersikap
lembut, dan berpenampilan layaknya guru yang berwibawa dan berkharismatik
sesuai dengan bidang studi yang saya ajarkan yaitu PPKn.” Seperti kata pepatah “dimana ada kemauan, disitu ada jalan”, nah,
pepatah itulah yang menjadi penyemangat saya yang bertekad ingin menjadi guru
sekalipun belum pernah punya pengetahuan dalam dunia pendidikan.
Niat saya menjadi seorang guru bermula
pada saat saya kuliah dan mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata), saya memilih
mengabdi kepada masyarakat untuk menjadi guru les anak-anak gampong Tanjong
Punti, Kecamatan Tanah Jambo Ayee yaitu sebuah desa kecil yang terletak di pedalaman
kota Panton Labu.
Pengalaman pertama saya saat menjadi
guru les, saya langsung tertarik, dimana saya menemukan banyak hal baru dari
anak-anak les saya, mengenal berbagai macam karakter dari mereka, melatih
kesabaran, memahami situasi dan kondisi anak-anak ketika ingin belajar, bermain
setelah belajar, atau bahkan belajar sambil bermain. Pelajaran yang saya
ajarkan pada mereka itu beragam, dengan bermodal ilmu pengetahuan yang dapatkan
disaat saya sekolah dulu yang alhamdulillah menjadi juara kelas dan masuk
peringkat 3 besar di kelas, saya mengajarkan pelajaran bahasa Inggris, Agama,
dan mengajarkan mereka Ilmu Teknologi (IT).
Ternyata anak-anak di gampong tersebut
belum mengenal yang namanya laptop, gadget, dan dunia internet. Dari pengalaman
tersebut, saya merasa saya punya bakat untuk menjadi seorang guru, sangat menyenangkan.
Sejak itulah saya bercita-cita ingin menjadi guru setelah saya selesai kuliah,
apalagi saya kuliah jurusan Sosiologi, salah satu pelajaran yang ada di tingkat
SMA.
Singkat cerita, saya telah menyelesaikan
kuliah saya, dan memutuskan melamar kerja sebagai guru di Sekolah Sukma Bangsa
Lhokseumawe. Ketika saya mengikuti tes TPA (Tes Potensi Akademik), saya masih
tenang, santai, namun ketika tes berlanjut dengan Microteaching dan harus
menyiapkan RPP, pikiran saya buyar, waduh, gimana ini, saya sama sekali tidak
mengerti apa itu RPP, dan bagaimana teknik mengajar yang baik di salah satu sekolah
favorit di Lhokseumawe, pada saat itu saya di hantui rasa takut, tidak tenang, dan
berusaha belajar dari beberapa orang tua kawan saya yang berprofesi sebagai
guru, mencari apa itu RPP, sampai saya tes praktik mengajar di depan salah satu
guru yang saya kenal dekat.
Dan alhamdulillah saya bisa melewati
perjuangan itu dan diterima menjadi guru PPKn di SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe.
Sebenarnya basic saya kuliah Sosiologi juga nyambung dengan pelajaran PPKn,
yaitu bagaimana cara memahami masyarakat, sistem pemerintahannya, ilmu hukum/peraturan/norma,
dan kehidupan di masyarakat yang dapat menimbulkan masalah.
Meski harus belajar lebih banyak lagi
untuk mendalami pengetahuan saya dalam pelajaran PPKn, tidak menyurutkan niat
saya untuk mundur menjadi guru, saya berusaha belajar apa saja yang belum saya
ketahui tentang pelajaran PPKn, bahkan saya belajar kepada dosen saya yang
mengajar mata kuliah ilmu kewarganegaraan, dan alhamdulillah saya udah memahami
pelajaran PPKn.
Guru tidak sekedar profesi, melainkan
panggilan hati untuk berbagi, sebuah kalimat yang selalu memotivasi saya untuk
terus belajar menjadi guru, karena saya masih merasa banyak kekurangan. Sebuah
cerita menarik tentang seorang siswa yang telah mengajarkan saya bagaimana
seharusnya seorang guru yang baik, sebut saja namanya Rizal. Rizal adalah siswa
yang dikenal hiperaktif, jarang masuk kelas, malas, dan tidak respeck ketika
proses KBM. Rizal yang selalu mendapatkan nilai ujian rendah dan dibawah KKM,
jarang mengumpulkan tugas, dan selalu membuat keributan di kelas, dan membuat
anak-anak yang lain terganggu proses belajarnya. Setiap hari saya menasehati,
dengan cara yang lembut, saya memberikan ceramah singkat atau siraman rohani
kepada Rizal, dengan modal kesabaran, saya menbimbingnya untuk lebih serius
ketika belajar dan jangan menyia-nyiakan masa mudanya.
Memang tidak mudah masuk kedalam kehidupan
Rizal, untuk memahami karakter Rizal, saya harus melakukan pendekatan khusus supaya
Rizal mau mendengarkan setiap nasehat saya. Pelan-pelan tapi pasti, alhasil,
pada suatu ketika saya membuat UTS, Rizal mendapatkan nilai yang sangat
memuaskan, berbanding terbalik dengan nilai UH Rizal. Saya memberikan apresiasi
kepada Rizal dengan mengumumkan nilai Rizal di dalam kelas, di hadapan
kawan-kawannya.
Dengan raut wajah yang bahagia, dan
senyuman indah yang terpancar di wajah Rizal, seraya kawan-kawannya memberikan
selamat kepada Rizal karena mendapatkan nilai UTS yang sangat memuaskan,
meskipun ada kawannya yang bercanda dengan berkata “kayak mimpi ya Rizal dapat nilai 100, eh yang benar ajha tuh nilainya?
Hehehe. Saya tersenyum melihat reaksi kawan-kawannya yang antusias
memberikan selamat kepada Rizal. Rizal yang dulu bukanlah yang sekarang, Rizal
sudah berubah menjadi lebih baik lagi. Ini juga menjadi sebuah apresiasi bagi
saya sendiri. Let’s say Hamdallah, Alhamdulillah Yaa Allah.
Oleh: Riska Pristiani


0 komentar:
Posting Komentar