https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Esai Guru

BELAJAR JADI GURU

Hasil gambar untuk BELAJAR JADI GURU

Untuk menjadi guru tidak mudah, dibutuhkan banyak kesabaran dalam menghadapi setiap tingkah laku peserta didik. Mungkin bagi sebagian orang yang berprofesi sebagai guru adalah lulusan FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) yang sudah mendapat pengetahuan khusus dalam dunia pendidikan.

Namun hal tersebut tidak berlaku untuk saya. Saya yang berlatarbelakang FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) yang dimana dalam ilmu perkuliahannya tidak mengajarkan bagaimana menjadi seorang guru, bagaimana menjadi seorang pendidik yang baik untuk peserta didiknya, sehinggga membuat saya berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi guru.

Di awal cerita saya menjadi seorang guru, saya mengalami banyak tantangan dan rintangan yang harus saya hadapi, mulai dari melatih kesabaran, menahan ego, berbahasa yang sopan, bersikap lembut, dan berpenampilan layaknya guru yang berwibawa dan berkharismatik sesuai dengan bidang studi yang saya ajarkan yaitu PPKn.” Seperti kata pepatah “dimana ada kemauan, disitu ada jalan”, nah, pepatah itulah yang menjadi penyemangat saya yang bertekad ingin menjadi guru sekalipun belum pernah punya pengetahuan dalam dunia pendidikan.

Niat saya menjadi seorang guru bermula pada saat saya kuliah dan mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata), saya memilih mengabdi kepada masyarakat untuk menjadi guru les anak-anak gampong Tanjong Punti, Kecamatan Tanah Jambo Ayee yaitu sebuah desa kecil yang terletak di pedalaman kota Panton Labu.

Pengalaman pertama saya saat menjadi guru les, saya langsung tertarik, dimana saya menemukan banyak hal baru dari anak-anak les saya, mengenal berbagai macam karakter dari mereka, melatih kesabaran, memahami situasi dan kondisi anak-anak ketika ingin belajar, bermain setelah belajar, atau bahkan belajar sambil bermain. Pelajaran yang saya ajarkan pada mereka itu beragam, dengan bermodal ilmu pengetahuan yang dapatkan disaat saya sekolah dulu yang alhamdulillah menjadi juara kelas dan masuk peringkat 3 besar di kelas, saya mengajarkan pelajaran bahasa Inggris, Agama, dan mengajarkan mereka Ilmu Teknologi (IT).

Ternyata anak-anak di gampong tersebut belum mengenal yang namanya laptop, gadget, dan dunia internet. Dari pengalaman tersebut, saya merasa saya punya bakat untuk menjadi seorang guru, sangat menyenangkan. Sejak itulah saya bercita-cita ingin menjadi guru setelah saya selesai kuliah, apalagi saya kuliah jurusan Sosiologi, salah satu pelajaran yang ada di tingkat SMA.

Singkat cerita, saya telah menyelesaikan kuliah saya, dan memutuskan melamar kerja sebagai guru di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe. Ketika saya mengikuti tes TPA (Tes Potensi Akademik), saya masih tenang, santai, namun ketika tes berlanjut dengan Microteaching dan harus menyiapkan RPP, pikiran saya buyar, waduh, gimana ini, saya sama sekali tidak mengerti apa itu RPP, dan bagaimana teknik mengajar yang baik di salah satu sekolah favorit di Lhokseumawe, pada saat itu saya di hantui rasa takut, tidak tenang, dan berusaha belajar dari beberapa orang tua kawan saya yang berprofesi sebagai guru, mencari apa itu RPP, sampai saya tes praktik mengajar di depan salah satu guru yang saya kenal dekat.

Dan alhamdulillah saya bisa melewati perjuangan itu dan diterima menjadi guru PPKn di SMAS Sukma Bangsa Lhokseumawe. Sebenarnya basic saya kuliah Sosiologi juga nyambung dengan pelajaran PPKn, yaitu bagaimana cara memahami masyarakat, sistem pemerintahannya, ilmu hukum/peraturan/norma, dan kehidupan di masyarakat yang dapat menimbulkan masalah.

Meski harus belajar lebih banyak lagi untuk mendalami pengetahuan saya dalam pelajaran PPKn, tidak menyurutkan niat saya untuk mundur menjadi guru, saya berusaha belajar apa saja yang belum saya ketahui tentang pelajaran PPKn, bahkan saya belajar kepada dosen saya yang mengajar mata kuliah ilmu kewarganegaraan, dan alhamdulillah saya udah memahami pelajaran PPKn.

Guru tidak sekedar profesi, melainkan panggilan hati untuk berbagi, sebuah kalimat yang selalu memotivasi saya untuk terus belajar menjadi guru, karena saya masih merasa banyak kekurangan. Sebuah cerita menarik tentang seorang siswa yang telah mengajarkan saya bagaimana seharusnya seorang guru yang baik, sebut saja namanya Rizal. Rizal adalah siswa yang dikenal hiperaktif, jarang masuk kelas, malas, dan tidak respeck ketika proses KBM. Rizal yang selalu mendapatkan nilai ujian rendah dan dibawah KKM, jarang mengumpulkan tugas, dan selalu membuat keributan di kelas, dan membuat anak-anak yang lain terganggu proses belajarnya. Setiap hari saya menasehati, dengan cara yang lembut, saya memberikan ceramah singkat atau siraman rohani kepada Rizal, dengan modal kesabaran, saya menbimbingnya untuk lebih serius ketika belajar dan jangan menyia-nyiakan masa mudanya.

Memang tidak mudah masuk kedalam kehidupan Rizal, untuk memahami karakter Rizal, saya harus melakukan pendekatan khusus supaya Rizal mau mendengarkan setiap nasehat saya. Pelan-pelan tapi pasti, alhasil, pada suatu ketika saya membuat UTS, Rizal mendapatkan nilai yang sangat memuaskan, berbanding terbalik dengan nilai UH Rizal. Saya memberikan apresiasi kepada Rizal dengan mengumumkan nilai Rizal di dalam kelas, di hadapan kawan-kawannya.

Dengan raut wajah yang bahagia, dan senyuman indah yang terpancar di wajah Rizal, seraya kawan-kawannya memberikan selamat kepada Rizal karena mendapatkan nilai UTS yang sangat memuaskan, meskipun ada kawannya yang bercanda dengan berkata “kayak mimpi ya Rizal dapat nilai 100, eh yang benar ajha tuh nilainya? Hehehe. Saya tersenyum melihat reaksi kawan-kawannya yang antusias memberikan selamat kepada Rizal. Rizal yang dulu bukanlah yang sekarang, Rizal sudah berubah menjadi lebih baik lagi. Ini juga menjadi sebuah apresiasi bagi saya sendiri. Let’s say Hamdallah, Alhamdulillah Yaa Allah. 

Oleh: Riska Pristiani

About Indeks

Situs ini pertama kali diindeks oleh Google pada Januari 2012. Koneksi Anda ke situs ini aman.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.