Di antara matahari terbit
di Indonesia dan matahari terbenam di Amerika Serikat, langkah dan jemari anak
bangsa ini menari seirama. Menyelamlah sedalam-dalamnya pada tiap bait jurnalku
ini. Ini bukan sekedar jurnal, ini lebih dari cita rasa bahagia dan rindu
teraduk satu.
Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi salah satu diantara 85
pelajar se indonesia, yang berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar
ke Amerika Serikat selama lebih kurang satu tahun. Program yang saat ini
dikelola oleh Bina Antar Budaya –Sebuah Lembaga Nirlaba non-pemerintah, telah
melahirkan banyak tokoh besar di Indonesia. Seperti, Taufiq Ismail, Najwa
Shihab, Mario Teguh, dan Anies Baswedan.
8 Agustus 2016 kemarin, kami terbang dari Jakarta dengan menempah berapa
jam penerbangan, dan tiba di Bandara nama bandara, Nama kota.
Sesampai di Amerika serikat, kami ditempatkan di state (provinsi)
yang berbeda, yang berarti “memaksa” kami untuk menjadi pribadi yang
mandiri dan survive dalam segala keadaan. Begitu banyak cerita dan hal baru yang saya
pelajari disini. Terutama dalam hal respect, cinta
lingkungan, cara mereka berbicara
satu sama lain, hingga sistem pendidikan mereka yang hampir seluruhnya
berbeda dengan Indonesia.
Saya mendapatkan keluarga
angkat di Kota Farmville, Virginia, yang jarak tempuhnya 3 jam dari Washington
DC, yang merupakan ibukota Amerika Serikat. Sekalipun dekat dengan ibukota
Negara, saya tidak tinggal di daerah yang ramai penduduknya. Farmville adalah
daerah sub-urban yang mana jumlah pohon disini masih lebih banyak dari
jumlah mobil di jalan.
Sebagaimana di Kota
Lhokseumawe, saya sudah sangat jarang merasakan udara segar karena jumlah bangunan
dan kendaraan tumbuh lebih cepat dibandingkan pohon pohon itu sendiri. Jadi
saya sangat bersyukur karena dapat merasakan udara yang masih sangat segar di
sekitar rumah yang saya tempati disini.
Saya tinggal bersama
keluarga angkat yang mempunyai 9 orang anak angkat. Sejauh yang saya tau,
sangat jarang sekali ada rumah yatim atau panti asuhan disini. Mereka punya
program khusus untuk hal ini, dimana begitu banyak keluarga yang peduli dan
ingin menjadikan anak-anak ini sebagai bagian dari keluarga mereka.
Mereka tidak peduli sekalipun
ada yang berkulit hitam, berambut keriting, ataupun memiliki disability, karena
rasa peduli mereka lebih besar daripada rasa khawatir
akan kekurangan harta bendanya. Itulah mengapa, sangat jarang sekali ditemukan rumah yatim, malah ibu
angkat saya menyebutkan bahwa mereka tidak punya rumah yatim disini.
Saya merasakan begitu
banyak hal positif di dalam rumah. Anak anak beliau begitu antusias menolong
saya dalam melakukan segala hal. Mereka selalu bertanya “Apakah ada yang bisa
saya bantu?” “Bolehkah saya membawakan tasmu, Ika?” “Bolehkah saya menuangkan
air untukmu?” dan saya menerima banyak sekali bantuan dari mereka, terutama ketika
saya begitu lelah pulang dari sekolah, mereka begitu antusias keluar dari
rumah, menyambut saya pulang dan menawarkan bantuan untuk membawa tas. Hal demikian menunjukkan bahwa mereka sudah terbiasa untuk saling membantu sejak
mereka kecil. Ini adalah hal yang paling saya sukai dari orang-orang di Amerika.
Saya sekolah di Fuqua School, Farmville. Fuqua School
adalah sekolah swasta yang terdiri dari SD sampai SMA. Sama seperti di
Indonesia, saya juga menjalani kelas 12 saya disini. Sekolah disini menerapkan
sistem moving class, dimana kelas tidak dibagi berdasarkan tingkatan
kelas, tapi dibagi berdasarkan mata pelajaran. Jadi, kita tidak hanya bertemu
dengan teman-teman se-angkatan, tapi juga dapat berbaur dengan adik-adik kelas.
Guru-guru disini sangat
ramah, begitu pula dengan siswa-siswinya. Ada banyak sekali
budaya-budaya unik disekolah ini, salah satunya 9 value; Honesty,
Coorperation, Compassion, Responsibility, dan beberapa manner positif
lainnya yang berusaha diterapkan di lingkungan sekolah.
Yang paling menarik bagi
saya adalah ketika saya melihat kepala sekolah yang seharusnya berada di
ruangan khusus dan lumayan sulit untuk ditemui siswa kapan saja, disini saya
begitu mudah bertemu dengannya, bahkan beliau sampai membukakan pintu mobil
untuk siswanya ketika mereka di jemput orang tua.
Pangkat dan jabatan tidak membuat mereka merasa tidak pantas melakukan sesuatu yang
seharusnya dilakukan oleh orang yang lebih rendah jabatannya. Saya juga
tertarik dengan budaya mereka yang sangat disiplin dalam membuang sampah pada
tempatnya. Toilet mereka juga begitu bersih dan harum, meskipun tanpa penjaga
sekolah yang membersihkannya.
Begitu banyak tantangan
yang saya hadapi disini. Karena budaya disini berbeda sekali dengan Aceh.
Begitu sulit menemukan muslim disini, apalagi menemukan mereka yang berjilbab. Di sekolah, saya adalah satu-satunya
siswi yang memakai baju dan rok panjang serta jilbab. Pada awalnya saya merasa
aneh dan berpikir saya akan kesulitan mendapatkan teman karena cara berpakaian
saya. Tapi nyatanya, tidak sama sekali.
Mereka begitu ramah dan
selalu menyapa ketika berpapasan. Jarang sekali ada yang melirik aneh ke arah
saya, tapi ada beebread (apa maksud
kata ini riska?)
dari mereka yang menanyakan “Kenapa kamu pakai baju lengan panjang dan penutup
kepala di musim panas?” saya hanya menjawab “Because I should and I love it (Karena
saya harus memakainya dan saya suka ini)”.
Banyak dari mereka yang
begitu penasaran dengan muslim dan juga jilbab, saya sudah sangat sering menjelaskan kepada orang yang berbeda tentang kenapa saya berpakaian
seperti ini, mereka sangat open-minded dan menghargai orang lain. Mereka
juga memberi semangat kepada saya untuk tetap berpakaian seperti ini, karena
inilah yang menjadi identitas saya dan membuat mereka mudah mengenali saya.
Bukan hanya menemukan
muslim, mencari masjid disini juga sangat sulit. Guru jurnalistik saya
begitu antusias mencarikan alamat masjid di sekitar kota, setelah menemukan alamatnya, bersama keluarga angkat, saya berangkat
dan menemukan tempat ibadah yang jika di Aceh ada dimana-mana.
Namun, saya terkejut, masjid yang saya temui tidaklah seperti masjid
yang ada di pikiran saya. sebuah bangunan yang berukuran kecil tanpa kubah, hanya pamplet di depan bangunan betuliskan : “Mesjid As-Salam”.
itulah satu-satunya masjid terdekat yang dapat
saya temui disini. Saya lebih sering sholat di rumah, waktu sholat bisa
saya dapatkan di beberapa website milik organisasi muslim di Virginia ini,
begitu juga dengan arah sholat atau kiblat. Saya pulang sekolah pukul 5, jadi
saya mengerjakan sholat dzuhur di sekolah.
Awalnya terasa sulit,
saya ragu untuk meminta izin kepada guru mata pelajaran, tapi setelah saya
mengumpulkan keberanian, ternyata keinginan saya disambut baik, sampai sampai kepala
sekolah langsung menyediakan ruang khusus yang tenang untuk saya sholat. Saya
merasa begitu bersyukur, memang benar, saya minoritas disini, tapi minoritas
belum tentu dikucilkan, bukan? Minoritas menjadi yang paling istimewa
dari yang lain.
Diakhir tulisan ini, saya jadi merenung sendiri, rasanya mereka lebih
peduli sesama, padahal kita yang jelas-jelas diperintahkan islam untuk saling
tolong menolong, saling membantu, saling mencitai. Mereka lebih cinta
kebersihan, padahal sangat tegas dalam islam, bahwa kebersihan adalah sebagian
dari iman. Lalu, adakah yang salah dengan pendidikan kita? Wallahua’lam
bissawab
Di Sebuah Kamar sederhana, dibalut oleh Rindang Pohon, Farmville, Virginia,
Amerika Serikat, 2016
Riska Niar Maulida, Siswi SMAS
Sukma Bangsa, Lhokseumawe
Oleh : Riska
Niar Maulida


0 komentar:
Posting Komentar