https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Esai Siswa

ISTIMEWANYA MENJADI MINORITAS DI AMERIKA SERIKAT


            Hasil gambar untuk ISTIMEWANYA MENJADI MINORITAS DI AMERIKA SERIKAT
Di antara matahari terbit di Indonesia dan matahari terbenam di Amerika Serikat, langkah dan jemari anak bangsa ini menari seirama. Menyelamlah sedalam-dalamnya pada tiap bait jurnalku ini. Ini bukan sekedar jurnal, ini lebih dari cita rasa bahagia dan rindu teraduk satu.  

Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi salah satu diantara 85 pelajar se indonesia, yang berkesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama lebih kurang satu tahun. Program yang saat ini dikelola oleh Bina Antar Budaya –Sebuah Lembaga Nirlaba non-pemerintah, telah melahirkan banyak tokoh besar di Indonesia. Seperti, Taufiq Ismail, Najwa Shihab, Mario Teguh, dan Anies Baswedan.
           
8 Agustus 2016 kemarin, kami terbang dari Jakarta dengan menempah berapa jam penerbangan, dan tiba di Bandara nama bandara, Nama kota.          

Sesampai di Amerika serikat, kami ditempatkan di state (provinsi) yang berbeda, yang berarti “memaksa” kami untuk menjadi pribadi yang mandiri dan survive dalam segala keadaan. Begitu banyak cerita dan hal baru yang saya pelajari disini. Terutama dalam hal respect, cinta lingkungan, cara mereka berbicara satu sama lain, hingga sistem pendidikan mereka yang hampir seluruhnya berbeda dengan Indonesia.

Saya mendapatkan keluarga angkat di Kota Farmville, Virginia, yang jarak tempuhnya 3 jam dari Washington DC, yang merupakan ibukota Amerika Serikat. Sekalipun dekat dengan ibukota Negara, saya tidak tinggal di daerah yang ramai penduduknya. Farmville adalah daerah sub-urban yang mana jumlah pohon disini masih lebih banyak dari jumlah mobil di jalan. 

Sebagaimana di Kota Lhokseumawe, saya sudah sangat jarang merasakan udara segar karena jumlah bangunan dan kendaraan tumbuh lebih cepat dibandingkan pohon pohon itu sendiri. Jadi saya sangat bersyukur karena dapat merasakan udara yang masih sangat segar di sekitar rumah yang saya tempati disini.

Saya tinggal bersama keluarga angkat yang mempunyai 9 orang anak angkat. Sejauh yang saya tau, sangat jarang sekali ada rumah yatim atau panti asuhan disini. Mereka punya program khusus untuk hal ini, dimana begitu banyak keluarga yang peduli dan ingin menjadikan anak-anak ini sebagai bagian dari keluarga mereka.

Mereka tidak peduli sekalipun ada yang berkulit hitam, berambut keriting, ataupun memiliki disability, karena rasa peduli mereka lebih besar daripada rasa khawatir akan kekurangan harta bendanya. Itulah mengapa, sangat jarang sekali ditemukan rumah yatim, malah ibu angkat saya menyebutkan bahwa mereka tidak punya rumah yatim disini.

Saya merasakan begitu banyak hal positif di dalam rumah. Anak anak beliau begitu antusias menolong saya dalam melakukan segala hal. Mereka selalu bertanya “Apakah ada yang bisa saya bantu?” “Bolehkah saya membawakan tasmu, Ika?” “Bolehkah saya menuangkan air untukmu? dan saya menerima banyak sekali bantuan dari mereka, terutama ketika saya begitu lelah pulang dari sekolah, mereka begitu antusias keluar dari rumah, menyambut saya pulang dan menawarkan bantuan untuk membawa tas. Hal demikian menunjukkan bahwa mereka sudah terbiasa untuk saling membantu sejak mereka kecil. Ini adalah hal yang paling saya sukai dari orang-orang di Amerika.

            Saya sekolah di Fuqua School, Farmville. Fuqua School adalah sekolah swasta yang terdiri dari SD sampai SMA. Sama seperti di Indonesia, saya juga menjalani kelas 12 saya disini. Sekolah disini menerapkan sistem moving class, dimana kelas tidak dibagi berdasarkan tingkatan kelas, tapi dibagi berdasarkan mata pelajaran. Jadi, kita tidak hanya bertemu dengan teman-teman se-angkatan, tapi juga dapat berbaur dengan adik-adik kelas.

Guru-guru disini sangat ramah, begitu pula dengan siswa-siswinya. Ada banyak sekali budaya-budaya unik disekolah ini, salah satunya 9 value; Honesty, Coorperation, Compassion, Responsibility, dan beberapa manner positif lainnya yang berusaha diterapkan di lingkungan sekolah.

Yang paling menarik bagi saya adalah ketika saya melihat kepala sekolah yang seharusnya berada di ruangan khusus dan lumayan sulit untuk ditemui siswa kapan saja, disini saya begitu mudah bertemu dengannya, bahkan beliau sampai membukakan pintu mobil untuk siswanya ketika mereka di jemput orang tua.

Pangkat dan jabatan tidak membuat mereka merasa tidak pantas melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh orang yang lebih rendah jabatannya. Saya juga tertarik dengan budaya mereka yang sangat disiplin dalam membuang sampah pada tempatnya. Toilet mereka juga begitu bersih dan harum, meskipun tanpa penjaga sekolah yang membersihkannya.
           
Begitu banyak tantangan yang saya hadapi disini. Karena budaya disini berbeda sekali dengan Aceh. Begitu sulit menemukan muslim disini, apalagi menemukan mereka yang berjilbab. Di sekolah, saya adalah satu-satunya siswi yang memakai baju dan rok panjang serta jilbab. Pada awalnya saya merasa aneh dan berpikir saya akan kesulitan mendapatkan teman karena cara berpakaian saya. Tapi nyatanya, tidak sama sekali.

Mereka begitu ramah dan selalu menyapa ketika berpapasan. Jarang sekali ada yang melirik aneh ke arah saya, tapi ada beebread (apa maksud kata ini riska?) dari mereka yang menanyakan “Kenapa kamu pakai baju lengan panjang dan penutup kepala di musim panas?” saya hanya menjawab “Because I should and I love it (Karena saya harus memakainya dan saya suka ini).

Banyak dari mereka yang begitu penasaran dengan muslim dan juga jilbab, saya sudah sangat sering menjelaskan kepada orang yang berbeda tentang kenapa saya berpakaian seperti ini, mereka sangat open-minded dan menghargai orang lain. Mereka juga memberi semangat kepada saya untuk tetap berpakaian seperti ini, karena inilah yang menjadi identitas saya dan membuat mereka mudah mengenali saya.

Bukan hanya menemukan muslim, mencari masjid disini juga sangat sulit. Guru jurnalistik saya begitu antusias mencarikan alamat masjid di sekitar kota, setelah menemukan alamatnya, bersama keluarga angkat, saya berangkat dan menemukan tempat ibadah yang jika di Aceh ada dimana-mana.

Namun, saya terkejut, masjid yang saya temui tidaklah seperti masjid yang ada di pikiran saya. sebuah bangunan yang berukuran kecil tanpa kubah, hanya  pamplet di depan bangunan betuliskan : “Mesjid As-Salam”.

itulah satu-satunya masjid terdekat yang dapat saya temui disini. Saya lebih sering sholat di rumah, waktu sholat bisa saya dapatkan di beberapa website milik organisasi muslim di Virginia ini, begitu juga dengan arah sholat atau kiblat. Saya pulang sekolah pukul 5, jadi saya mengerjakan sholat dzuhur di sekolah.

Awalnya terasa sulit, saya ragu untuk meminta izin kepada guru mata pelajaran, tapi setelah saya mengumpulkan keberanian, ternyata keinginan saya disambut baik, sampai sampai kepala sekolah langsung menyediakan ruang khusus yang tenang untuk saya sholat. Saya merasa begitu bersyukur, memang benar, saya minoritas disini, tapi minoritas belum tentu dikucilkan, bukan? Minoritas menjadi yang paling istimewa dari yang lain.

Diakhir tulisan ini, saya jadi merenung sendiri, rasanya mereka lebih peduli sesama, padahal kita yang jelas-jelas diperintahkan islam untuk saling tolong menolong, saling membantu, saling mencitai. Mereka lebih cinta kebersihan, padahal sangat tegas dalam islam, bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Lalu, adakah yang salah dengan pendidikan kita? Wallahua’lam bissawab

Di Sebuah Kamar sederhana, dibalut oleh Rindang Pohon, Farmville, Virginia, Amerika Serikat, 2016

Riska Niar Maulida, Siswi SMAS Sukma Bangsa, Lhokseumawe


Oleh : Riska Niar Maulida



About Indeks

Situs ini pertama kali diindeks oleh Google pada Januari 2012. Koneksi Anda ke situs ini aman.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.