https://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Bulan_Asia_Wikipedia




Cerpen

Guru Buloh Blang Ara


Hasil gambar untuk Guru karikatur

SETIAP kali turun hujan, Pak Man selalu risau. Jalan yang biasa dilaluinya jadi kubang kerbau. Sekalipun hujan itu hanya sebentar. Tapi sepertinya langit tidak pernah mendengar jeritan Pak Man yang sudah berpuluh tahun. Kubang kerbau itu berbelok dari belakang rumahnya, melewati empat buah bukit dan semak belukar, hanya ada sebuah gubuk warga di antara bukit-bukit itu, dan akhirnya tembus ke jalan aspal yang pernah dibangun PT Exxon Mobil tahun 1971 silam. Pak Man masih harus melanjutkan perjalanannya 1 jam lagi untuk sampai ke sekolah. Sepeda agam tua selalu menemaninya. Sepeda itu jadi khas seorang guru Agama di MTsN Buloh Blang Ara. Siapapun pasti mengenal baik sepeda itu dan pendayungnya.

Bukan sebuah lelucon, masyarakat di sekitar kecamatan Buloh blang ara mengenal dekat Pak Man dengan nama belakang “unta rasul”. Sepertinya kata-kata itu jadi pelengkap nama Pak Man. MUHAMMAD SULAIMAN UNTA RASUL. Sangat panjang dan kedengaran aneh, tapi lidah orang-orang tidak pernah merasa lelah dan kaku dalam memanggil. Entah siapa yang pertama kali memanggil Pak Man dengan nama itu. Semenjak saya lahir, 26 tahun yang lalu, saya sudah mendengar orang-orang memanggil nama itu. Terkenalnya Pak Man bukan hanya dikalangan masayarakat kecamatan Buloh Blang Ara, tapi hingga ke kecamatan Meunasah krueng, kecamatan Matang siblah, yang besebelahan di bagian utara.

Ketenaran seorang Sulaiman Unta Rasul melebihi terkenalnya Pak Camat. Ditengah berhamburan uang di negeri yang paling kaya itu, ternyata masih ada orang yang mau dibayar dengan “terimakasih”. Disetiap pagi, saat sepeda Pak Man melewati keude Buloh Blang Ara, akan terasa hambar apabila penghuni di keude itu tidak membicarakan Pak Man. Setiap orang menggeleng-gelengkan kepala sebagai wujud tidak sanggup pikir akan keikhlasan seorang guru yang sepertinya hanya terjadi di film-film saja. Tapi itu semua nyata di depan mata kepala mereka. Tidak sedikit juga orang-orang yang menganggap bodoh akan keikhlasan Pak Man. “Hana meuho geujak beh umu, lage hana but laen

Tak pernah ada yang berbeda disetiap pagi, baju lusuh nan basah dengan keringat yang dimasukkan kedalam celana kain hitam memudar, sepatu bekas merek BOSS yang diberikan tetangganya ketika pertama kali diterima honor di sekolah itu, dan rambutnya yang jadi khas guru pedalaman, belah samping dengan polesan minyak amla, menjadi satu bayangan yang setiap pagi dinanti-nantikan oleh ibu-ibu di kecamatan itu. Guru yang baru diangkat pegawai negeri tahun 2009 lalu karena pemutihan.

Tak lebih dari 2 bulan diangkat menjadi pegawai negeri di lingkungan Depag Aceh Utara, Pak Man mendapatkan sebuah sepeda motor Supra-X 125 yang diberikan untuk guru-guru terpencil dengan nomor polisi BL 1828 AC. Sebuah gabungan angka tanpa disengaja dan ternyata menjadi latar sejarah pengabdian di MTsN yang selalu banjir saat hujan tiba itu. Pada usia 18 tahun diterima honor di sekolah itu dan selama 28 tahun mengabdi menjadi tenaga HLT (Honor Lillahi Ta’ala). Sebuah angka tahun yang sangat lama. Tapi Pak Man tidak pernah mengeluh.

Kabar Pak Man mendapatkan sepeda motor pecah hingga ke seluruh pelosok. Semua orang membicarakannya. Mulai dari anak muda, orang tua, bahkan anak kecil yang tidak tau apa-apa, mereka juga terlibat dalam berita termegah semenjak terciptanya kecamatan Buloh blang ara di jagat raya ini. Tapi sayang, kemegahan itu hanya berlaku 24 jam. Kebahagian dari akhir perjalanan pengabdian seorang Pak Man, benar-benar berakhir.
Sekarang semuanya telah tiada, tak ada lagi ibu-ibu yang dipinggir jalan menyaksikan Pak Man dengan kereta agam tuanya. Baling-baling tapak sepedanya mengeluarkan suara thak-thuk tidak terdengar lagi. Pemandangan terindah dipagi hari sudah tidak bisa dinikmati lagi. Anak-anak muda yang setiap pagi bercerita di keude kupi tentang guru mereka Pak Man juga tidak terdengar lagi. Yang ada hanya cerita mengenang. Nek do yang tinggal di gubuk ditengah bukit dan semak belukar juga tidak ada yang menyapa lagi. Bukan karena Pak Man telah mempunyai motor supra-x 125, tapi Pak Man telah pergi untuk selama-lamaya pada kecelakan di simpang Keude Buloh Blang Ara sehari setelah acara syukuran besar-besaran yang diadakan warga. semuanya kehilangan Pak Man. Selamat jalan Pak Man. Jasamu akan dikenang sampai kapan pun.
***

About Indeks

Situs ini pertama kali diindeks oleh Google pada Januari 2012. Koneksi Anda ke situs ini aman.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.