.gif)
SETIAP kali
turun hujan, Pak Man selalu risau. Jalan yang biasa dilaluinya jadi kubang
kerbau. Sekalipun hujan itu hanya sebentar. Tapi sepertinya langit tidak pernah
mendengar jeritan Pak Man yang sudah berpuluh tahun. Kubang kerbau itu berbelok
dari belakang rumahnya, melewati empat buah bukit dan semak belukar, hanya ada
sebuah gubuk warga di antara bukit-bukit itu, dan akhirnya tembus ke jalan
aspal yang pernah dibangun PT Exxon Mobil tahun 1971 silam. Pak Man masih harus
melanjutkan perjalanannya 1 jam lagi untuk sampai ke sekolah. Sepeda agam tua
selalu menemaninya. Sepeda itu jadi khas seorang guru Agama di MTsN Buloh Blang
Ara. Siapapun pasti mengenal baik sepeda itu dan pendayungnya.
Bukan sebuah lelucon, masyarakat di
sekitar kecamatan Buloh blang ara mengenal dekat Pak Man dengan nama belakang
“unta rasul”. Sepertinya kata-kata itu jadi pelengkap nama Pak Man. MUHAMMAD
SULAIMAN UNTA RASUL. Sangat panjang dan kedengaran aneh, tapi lidah orang-orang
tidak pernah merasa lelah dan kaku dalam memanggil. Entah siapa yang pertama
kali memanggil Pak Man dengan nama itu. Semenjak saya lahir, 26 tahun yang
lalu, saya sudah mendengar orang-orang memanggil nama itu. Terkenalnya Pak Man
bukan hanya dikalangan masayarakat kecamatan Buloh Blang Ara, tapi hingga ke
kecamatan Meunasah krueng, kecamatan Matang siblah, yang besebelahan di bagian
utara.
Ketenaran seorang Sulaiman Unta Rasul melebihi terkenalnya
Pak Camat. Ditengah berhamburan uang di negeri yang paling kaya itu, ternyata
masih ada orang yang mau dibayar dengan “terimakasih”. Disetiap pagi, saat
sepeda Pak Man melewati keude Buloh Blang Ara, akan terasa hambar apabila
penghuni di keude itu tidak membicarakan Pak Man. Setiap orang menggeleng-gelengkan
kepala sebagai wujud tidak sanggup pikir akan keikhlasan seorang guru yang
sepertinya hanya terjadi di film-film saja. Tapi itu semua nyata di depan mata
kepala mereka. Tidak sedikit juga orang-orang yang menganggap bodoh akan
keikhlasan Pak Man. “Hana meuho geujak
beh umu, lage hana but laen”
Tak pernah ada yang berbeda disetiap
pagi, baju lusuh nan basah dengan keringat yang dimasukkan kedalam celana kain
hitam memudar, sepatu bekas merek BOSS yang diberikan tetangganya ketika
pertama kali diterima honor di sekolah itu, dan rambutnya yang jadi khas guru
pedalaman, belah samping dengan polesan minyak amla, menjadi satu bayangan yang
setiap pagi dinanti-nantikan oleh ibu-ibu di kecamatan itu. Guru yang baru
diangkat pegawai negeri tahun 2009 lalu karena pemutihan.
Tak lebih dari 2 bulan diangkat
menjadi pegawai negeri di lingkungan Depag Aceh Utara, Pak Man mendapatkan
sebuah sepeda motor Supra-X 125 yang diberikan untuk guru-guru terpencil dengan
nomor polisi BL 1828 AC. Sebuah gabungan angka tanpa disengaja dan ternyata
menjadi latar sejarah pengabdian di MTsN yang selalu banjir saat hujan tiba
itu. Pada usia 18 tahun diterima honor di sekolah itu dan selama 28 tahun
mengabdi menjadi tenaga HLT (Honor Lillahi Ta’ala). Sebuah angka tahun yang sangat
lama. Tapi Pak Man tidak pernah mengeluh.
Kabar Pak Man mendapatkan sepeda
motor pecah hingga ke seluruh pelosok. Semua orang membicarakannya. Mulai dari
anak muda, orang tua, bahkan anak kecil yang tidak tau apa-apa, mereka juga
terlibat dalam berita termegah semenjak terciptanya kecamatan Buloh blang ara
di jagat raya ini. Tapi sayang, kemegahan itu hanya berlaku 24 jam. Kebahagian
dari akhir perjalanan pengabdian seorang Pak Man, benar-benar berakhir.
Sekarang semuanya telah tiada, tak
ada lagi ibu-ibu yang dipinggir jalan menyaksikan Pak Man dengan kereta agam
tuanya. Baling-baling tapak sepedanya mengeluarkan suara thak-thuk tidak
terdengar lagi. Pemandangan terindah dipagi hari sudah tidak bisa dinikmati
lagi. Anak-anak muda yang setiap pagi bercerita di keude kupi tentang guru
mereka Pak Man juga tidak terdengar lagi. Yang ada hanya cerita mengenang. Nek
do yang tinggal di gubuk ditengah bukit dan semak belukar juga tidak ada yang
menyapa lagi. Bukan karena Pak Man telah mempunyai motor supra-x 125, tapi Pak
Man telah pergi untuk selama-lamaya pada kecelakan di simpang Keude Buloh Blang
Ara sehari setelah acara syukuran besar-besaran yang diadakan warga. semuanya
kehilangan Pak Man. Selamat jalan Pak Man. Jasamu akan dikenang sampai kapan
pun.
***


0 komentar:
Posting Komentar